Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi aset berdenominasi rupiah, terutama karena harga minyak saat ini berada di atas asumsi dasar dalam APBN. Kenaikan harga minyak tidak hanya meningkatkan tekanan terhadap inflasi, tetapi juga memperbesar risiko pelebaran defisit fiskal.
Tekanan terhadap rupiah dan pasar Surat Utang Negara (SUN) pun semakin terasa. Sebelumnya, sentimen sudah memburuk akibat sorotan dari lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch Ratings terkait melemahnya kredibilitas fiskal dan kebijakan.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menyebut bahwa dalam beberapa skenario konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak, defisit fiskal berpotensi melampaui batas 3% terhadap PDB. Bahkan, dalam skenario terburuk, jika harga minyak menembus US$115 per barel, defisit APBN diperkirakan dapat melebar hingga 4,06% terhadap PDB.
Di pasar SUN, tekanan tercermin dari berlanjutnya aksi jual, terutama pada tenor pendek. Yield tenor 1 tahun melonjak 11,6 basis poin ke 6,04%, tenor 2 tahun menjadi 6,22%, tenor 3 tahun naik 6,4 basis poin ke 6,28%, tenor 4 tahun meningkat 2,1 basis poin ke 6,48%, dan tenor 5 tahun naik 4,1 basis poin menjadi 6,59%.
Kondisi ini dapat menempatkan Indonesia dapat posisi yang kurang menguntungkan di mata investor global. Selisih (spread) yield yang tinggi memang secara teori dapat meningkatkan daya tarik, tapi dalam situasi saat ini justru lebih mencerminkan persepsi risiko yang meningkat terhadap aset domestik.
Selain itu, pasar domestik juga mendapat tekanan tambahan dari faktor global, khususnya hasil lelang US Treasury (UST) tenor 2 tahun yang mengecewakan pada Selasa (24/3/2026), seperti dikutip dari laporan Mega Capital Sekuritas.
Nilai penawaran masuk (incoming bids) turun menjadi US$168,39 miliar, dari sebelumnya US$181,43 miliar, sementara yield lelang melonjak 48,1 basis poin menjadi 3,94% dari 3,46%.
Buruknya hasil lelang ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Perubahan ekspektasi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari inflasi AS yang masih tinggi yang tercermin dari data core PCE Januari serta CPI dan PPI Februari yang menunjukkan tekanan kuat dari sektor jasa, serta meningkatnya risiko geopolitik akibat potensi konflik Iran yang berkepanjangan setidaknya dua bulan ke depan.
"Dengan kombinasi tekanan domestik dan global tersebut, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 6,90%–7,00%, sementara rupiah berpotensi tertekan di rentang Rp16.950–Rp17.050/US$. Adapun yield SUN tenor 2 tahun berpotensi meningkat ke kisaran 6,15%–6,20%," kata tim Mega Capital Sekuritas yang terdiri dari Lionel Priyadi, Muhamad Haikal, dan Nanda Puput Rahmawati
(dsp/aji)




























