“Faktor terbesar perlambatan ini adalah dampak kebijakan subsidi utilitas pemerintah,” ujar Taro Saito, Kepala Riset Ekonomi di NLI Research Institute. “Namun, inflasi inti berpotensi kembali mendekati 2% pada rilis data berikutnya akibat dampak konflik Iran, yang mengubah ekspektasi bahwa inflasi akan bertahan di bawah 2% dalam waktu dekat.”
Meski data menunjukkan pelemahan inflasi, konsumen masih menghadapi kenaikan harga bensin yang berpotensi memperpanjang tekanan biaya hidup yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Ketergantungan Jepang pada impor energi membuatnya rentan terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurut Bloomberg Economics, inflasi inti yang mengeluarkan dampak subsidi tetap berada jauh di atas target 2%. Hal ini menunjukkan siklus kenaikan upah dan harga masih berlangsung, diperkuat oleh hasil negosiasi upah tahunan terbaru, sekaligus membuat Bank of Japan tetap waspada terhadap dampak gangguan pasokan terhadap tren harga.
Setelah rilis data, yen melemah ke level 158,56 per dolar AS dari sekitar 158,35. Mata uang ini masih berada di kisaran 160 yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah pada 2024. Pelemahan yen meningkatkan tekanan inflasi melalui kenaikan biaya impor.
Harga minyak tetap tinggi, diperdagangkan sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan sebelum pecahnya konflik bulan lalu. Lonjakan ini telah mendorong harga bensin Jepang ke level tertinggi sejak 1990 per pekan lalu.
Dalam kondisi tersebut, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyatakan tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya di April, dengan mempertimbangkan risiko kenaikan maupun penurunan harga. Pelaku pasar melihat peluang sekitar 63% untuk langkah tersebut, berdasarkan pergerakan pasar overnight index swaps.
Perlambatan inflasi Februari telah diperkirakan oleh ekonom setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi kembali memberlakukan subsidi utilitas selama tiga bulan mulai Januari. Dampak kebijakan ini mulai tercermin dalam data terbaru. Pemerintah juga kembali memberikan subsidi bensin pekan lalu untuk menahan harga di level ¥170 per liter setelah sempat mencapai rekor ¥190,8.
Dengan beban utang publik terbesar di dunia, investor kini mencermati seberapa lama pemerintah akan mempertahankan subsidi energi dan langkah lanjutan yang akan diambil. Takaichi sebelumnya meraih kemenangan besar dalam pemilu bulan lalu dengan janji mengatasi krisis biaya hidup melalui kebijakan fiskal.
Jika harga minyak mentah bertahan di kisaran US$100 per barel hingga akhir April, dampak penurunan inflasi dari kebijakan pemerintah diperkirakan hanya sementara. Inflasi inti Jepang berpotensi kembali meningkat ke kisaran 2,5% pada Mei, menurut analis JPMorgan Securities.
“Pergerakan inflasi juga sangat bergantung pada respons pemerintah,” kata Saito. “Tanpa intervensi tambahan, biaya hidup akan terus meningkat selama konflik berlangsung.”
(bbn)




























