Logo Bloomberg Technoz

Harga rata-rata bensin mencapai US$3,88 per galon pada hari Kamis, menurut American Automobile Association, naik hampir US$1 dibandingkan sebulan lalu sebelum perang dimulai.

Larangan ekspor minyak dapat mengacaukan pasar global, mengurangi minat pengeboran shale, dan pada akhirnya tidak banyak membantu pengemudi di Amerika, menurut para ahli.

Kongres mencabut larangan ekspor minyak mentah yang telah berlaku selama 40 tahun pada 2015, yang mengubah arus perdagangan global, menggeser kekuatan geopolitik, dan mengguncang berbagai ekonomi.

AS kemudian muncul sebagai produsen minyak terbesar di dunia, dengan ekspor ke lebih dari 50 negara, sering kali melampaui pengiriman dari negara mana pun di OPEC selain Arab Saudi.

Sementara itu, pembatasan ekspor produk olahan seperti bensin dan diesel memang dapat memastikan pasokan domestik lebih banyak, namun para ahli memperingatkan langkah tersebut bisa berbalik arah dan menimbulkan konsekuensi tak terduga, seperti kilang di Pantai Teluk AS mengurangi produksi sehingga harga justru naik.

“Melarang ekspor produk olahan atau minyak mentah akan kontraproduktif dalam menurunkan harga di SPBU, memicu panic buying, dan menyebabkan lonjakan harga lebih lanjut di pasar global,” kata Bob McNally, presiden Rapidan Energy Group yang berbasis di Washington.

“Larangan ekspor juga akan merusak reputasi AS sebagai ‘arsenal energi’ yang andal dan menghambat investasi energi jangka panjang di AS.”

Harga minyak mentah telah melonjak sejak perang Iran dimulai bulan lalu.

Lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz — jalur sempit di Teluk Persia yang menangani sekitar 20% perdagangan minyak global via laut dan pasokan gas alam cair — telah menurun tajam.

Pasokan produk minyak olahan, termasuk diesel, bensin, bahan bakar jet, bahan bakar kapal, dan nafta — yang digunakan untuk membuat plastik dan bahan bakar jalan — juga terganggu.

Sementara itu, meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, termasuk serangan rudal Iran terhadap fasilitas LNG terbesar di dunia di Qatar, meningkatkan kekhawatiran akan tekanan inflasi jangka panjang.

Gagasan pelarangan ekspor produk olahan pernah dipertimbangkan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina, namun mendapat kritik dari perusahaan minyak dan kilang domestik yang menyatakan bahwa pembatasan ekspor akan mengganggu pasar global, merugikan keamanan nasional, dan justru menaikkan harga bahan bakar di dalam negeri.

(bbn)

No more pages