Solar merupakan urat nadi industri angkutan barang, pertanian, dan konstruksi AS, dan setiap lonjakan harga eceran akan berdampak luas pada perekonomian secara keseluruhan. Harga solar melonjak lebih cepat daripada kebanyakan produk berbasis minyak bumi lainnya karena kilang-kilang di Teluk Persia merupakan pemasok utama bahan bakar tersebut.
Di beberapa negara bagian AS, harga solar telah melampaui angka US$5. Menurut Badan Informasi Energi AS, harga minyak pemanas rumah tangga, yang secara efektif dapat digunakan sebagai pengganti solar, juga telah naik di atas US$5.
2. Impor dari Hub Singapura Drop
Konflik yang meluas di Timur Tengah telah menyebabkan fluktuasi dan lonjakan harga bahan bakar kapal yang dramatis, sehingga mendorong distributor di Singapura—pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia — untuk mengurangi pembelian mereka.
Distributor bahan bakar kapal biasanya membeli volume besar minyak bakar dan gasoil laut yang kemudian mereka jual kembali ke kapal yang singgah di Singapura untuk mengisi bahan bakar.
Namun, beberapa orang yang terlibat langsung dalam perdagangan tersebut mengatakan bahwa mereka telah menunda pesanan yang lebih besar sejak pekan lalu, dengan alasan fluktuasi harga yang ekstrem.
3. Industri Petrokimia Jepang Krisis
Terlepas dari semua berita utama tentang ancaman kekurangan minyak mentah, Jepang menghadapi dampak yang lebih langsung terhadap rantai pasokan industrinya dari produk sampingan minyak bumi yang kurang dikenal, yaitu nafta (naphta).
Di Jepang, beberapa perusahaan petrokimia telah mengumumkan pengurangan produksi dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah akan membebani pasokan nafta, komponen vital untuk pembuatan plastik.
Gangguan suplai nafta tersebut menunjukkan krisis yang sedang berkembang yang dapat menghambat produksi dan menekan pendapatan di berbagai sektor, dari makanan hingga teknologi.
4. Raksasa Ekspor Australia Krisis Energi
Meski pasokan bensin dan solar ke Australia tetap stabil, pemerintah memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan akan membebani pengiriman. Panic buying telah mendorong harga naik, terutama di luar kota-kota besar, dengan biaya yang meningkat lebih cepat daripada patokan internasional pada tahap awal konflik—mendorong otoritas persaingan memanggil pemasok dan pengecer untuk memberikan penjelasan.
Meski menjadi salah satu eksportir batu bara dan gas alam terbesar di dunia, Australia tidak memproduksi cukup minyak mentah untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Ditambah persaingan dari kilang-kilang baru dan lebih efisien di Asia, negara ini hanya memiliki dua kilang tua yang memproduksi kurang dari seperempat bahan bakarnya. Sisanya bergantung pada impor.
Australia kemungkinan akan mengurangi impor solar sekitar 26% melalui peningkatan produksi domestik dan langkah-langkah penghematan, tetapi di luar itu, penutupan industri akan diperlukan, kata analis Morgan Stanley termasuk Rob Koh dalam laporan Senin.
Pemasok bahan bakar utama negara tersebut telah menghentikan penjualan spot—transaksi satu kali di luar perjanjian jangka panjang yang biasanya ditujukan untuk pengecer kecil dan pengguna komersial.
Selama akhir pekan, lonjakan permintaan memaksa SPBU di daerah pedesaan membatasi pasokan, sedangkan beberapa SPBU di antaranya kehabisan stok, menurut laporan lokal. Kelompok pengangkut truk telah menyuarakan kekhawatiran mengenai pasokan di luar daerah perkotaan, dan memperingatkan bahwa kenaikan biaya akan diteruskan pada konsumen.
5. Kremasi di Thailand Terancam
Kelangkaan bahan bakar yang semakin memburuk akibat perang di Timur Tengah mengancam upacara pemakaman suci di Thailand, di mana kuil-kuil Buddha berupaya keras mendapatkan solar untuk kremasi.
Kepala biara Wat Saman Rattanaram di Provinsi Chachoengsao, sekitar 50 mil sebelah timur Bangkok, memperingatkan bahwa penangguhan layanan kremasi merupakan kemungkinan nyata. Beberapa SPBU kehabisan bahan bakar, sedangkan yang lain hanya mengizinkan penjualan ke operator kendaraan.
"Dalam lebih dari 50 tahun, saya belum pernah melihat hal seperti ini," kata Phra Ratchwachiraprachanart, kepala biara dan gubernur keagamaan provinsi tersebut, dalam wawancara telepon pada Selasa. "Bukan hanya kami. Banyak kuil menghadapi masalah yang sama."
Dalam tradisi Buddha Thailand, kremasi biasanya dilakukan setelah beberapa malam doa oleh para biksu. Banyak krematorium menggunakan solar dalam tungku mereka, yang terhubung ke cerobong asap tinggi yang mengeluarkan asap dalam ritual yang diyakini membantu mengarahkan arwah ke surga.
Wat Saman Rattanaram, yang terkenal dengan patung raksasa Ganesha, dewa Hindu berkepala gajah, hanya memiliki sisa sekitar 200 liter solar, cukup untuk melakukan dua kremasi saja, kira-kira rata-rata mingguan mereka, kata sang kepala biara.
Laporan serupa muncul dari kuil-kuil di seluruh Thailand, mulai dari Nakhon Phanom di timur laut hingga fasilitas di dekat Bangkok yang menyediakan layanan kremasi gratis. Di negara-negara di mana kremasi umum dilakukan, termasuk India, beberapa kuil terpaksa menghentikan layanan akibat kekurangan bahan bakar.
Kuil-kuil menyelenggarakan sebagian besar kremasi di Thailand yang mayoritas beragama Buddha, tetapi meningkatnya kekhawatiran akan ketersediaan dan harga bahan bakar memicu antrean panjang di SPBU. Banyak SPBU membatasi pembelian guna mencegah penimbunan dan panic buying.
Menurut survei Kementerian Energi terhadap sekitar 1.500 SPBU yang dilakukan pada 15–16 Maret, sekitar 10% di antaranya telah tutup akibat kelangkaan, sementara hampir 70% melaporkan persediaan bahan bakar tertentu menipis atau habis.
6. Panen Kedelai di Brasil Kacau
Kenaikan harga minyak yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah semakin membebani biaya para eksportir hasil pertanian di Brasil, di mana para petani sangat bergantung pada truk bertenaga solar untuk transportasi.
Brasil saat ini sedang dalam masa puncak pengiriman kedelai, komoditas ekspor terpentingnya. Kenaikan harga solar membuat biaya angkut kedelai ke terminal semakin mahal, sekaligus menambah tekanan inflasi secara luas.
Meski harga bahan bakar lokal dipengaruhi oleh Petroleo Brasileiro SA yang dikendalikan pemerintah, para pengemudi truk melihat harga solar naik di pedesaan, bahkan sebelum perusahaan tersebut secara resmi menaikkan harga grosir.
Hanya dalam delapan hari pertama Maret, harga solar yang dijual oleh distributor bahan bakar ke SPBU naik hampir 14%, menurut perhitungan oleh Institut Perencanaan dan Perpajakan Brasil. Harga Petrobras tidak berubah selama periode tersebut. Perusahaan baru mengumumkan pada Jumat bahwa mereka akan menaikkan harga untuk distributor.
(ros)


























