Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham transportasi, saham barang baku, dan saham infrastruktur menjadi pendorong penguatan IHSG bullish hingga melesat di zona hijau, dengan menguat hingga 3,69%, 3,43%, dan 3,38%.

Saham barang baku yang menjadi penopang IHSG sepanjang perdagangan hari ini adalah saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 8,41%. Selain itu, penguatan juga terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 3,02% point–to–point.

Senada, saham infrastruktur turut menjadi pendorong. Saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melesat 15,62%, saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) melejit 7,85%, dan saham PT Indosat Tbk (ISAT) menguat 6,44%.

Saham–saham LQ45 juga tercatat melesat, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) terbang 11,97%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melesat 8,17%, dan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terapresiasi 7,82%.

Senada, tren positif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mencatat penguatan 7,17%, saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) menguat 5,85%, juga saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) hijau 4,81%.

Bursa Asia bervariasi pada perdagangan hari ini. Indeks SETI Thailand melejit 2,05%, KOSPI Korea Selatan melesat 1,63%, TW Weighted Index Taiwan menguat 1,48%, FTSE Straits Times Singapura menguat 1,38%, Ho Chi Minh Stock Index Vietnam menguat 1,01%, KLCI Malaysia menguat 0,85%, SENSEX India menguat 0,75%, TOPIX Jepang menguat 0,45%, PSEi Philippine menguat 0,32%, dan HANG SENG Hong Kong menguat 0,13%.

Sementara itu, indeks Shenzhen Comp. China drop 1,87%, Shanghai China turun 0,85%, CSI 300 China melemah 0,73%, dan NIKKEI 225 Jepang terdepresiasi 0,09%.

BI Tahan Bunga Acuan 

Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Maret 2026. Satu yang ditunggu tentu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%,” papar Gubernur BI, dalam Konferensi Pers usai RDG, Selasa.

Dengan begitu, suku bunga acuan bertahan di 4,75% selama empat bulan berturut–turut hingga Maret 2026. Pada Desember 2025, BI juga mempertahankan BI Rate.

Adapun hasil rapat bulan ini sesuai dengan estimasi pasar. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi BI Rate bertahan di 4,75% pada pertemuan Maret.

Perry menjelaskan, kebijakan ini ditempuh seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada nantinya menekan pertumbuhan ekonomi global sekaligus meningkatkan inflasi global. Kondisi tersebut turut memicu gejolak di pasar keuangan global.

Penilaian BI, dampak eskalasi tersebut sudah mulai terasa melalui keluarnya aliran modal portofolio asing dari negara emerging market, termasuk Indonesia, serta tekanan terhadap nilai tukar seiring penguatan dolar Amerika Serikat.

Ke depan, Bank Indonesia memberikan sinyal untuk tak lagi memangkas suku bunga acuan BI Rate, menggeser fokus kebijakan ke arah stabilitas di tengah dinamika geopolitik yang terus memanas.

“Kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, Rabu.

Phintraco Sekuritas memaparkan, seperti yang diperkirakan, RDG BI mempertahankan BI Rate pada level 4,75%, sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi di tengah memburuknya kondisi global akibat konflik di Timur Tengah.

Senada, Panin Sekuritas dalam risetnya menyebut, Keputusan BI yang menahan suku bunganya sejalan dengan ekspektasi pasar, mengingat kondisi nilai tukar rupiah yang kian tertekan, inflasi umum yang masih berada di atas target BI, serta tren surplus dagang yang kian menipis. 

“Beberapa langkah lainnya yang dilakukan BI dalam merespon perkembangan pasar terkini, termasuk penguatan kebijakan intervensi pasar valas dan lalu lintas devisa,” terang Panin.

Ke depannya, seiring dengan ruang penurunan kebijakan moneter global semakin kecil, termasuk kemungkinan semakin tertundanya penurunan suku bunga The Fed, Panin memprediksi BI Rate tetap akan ditahan sepanjang Semester I–2026, dan membuka peluang pemangkasan 1—2 kali (25—50bps) pada Semester II–2026. Adapun BI akan tetap mendorong pertumbuhan kredit perbankan melalui kebijakan makroprudensialnya.   

(fad)

No more pages