Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menekankan pentingnya pengamatan cuaca dan iklim dalam menghadapi berbagai potensi risiko, termasuk kondisi ekstrem.
“Tema Hari Meteorologi Dunia tahun ini mengingatkan kita bahwa setiap data yang dikumpulkan hari ini adalah bagian dari perlindungan masa depan bangsa. BMKG berkomitmen untuk terus memperkuat sistem observasi, memperluas jaringan, dan meningkatkan layanan agar masyarakat Indonesia semakin terlindungi dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujar Faisal di Jakarta, Selasa (17/3).
BMKG menyebutkan, Indonesia sebagai negara kepulauan tropis memiliki kerentanan tinggi terhadap fenomena hidrometeorologi, termasuk peningkatan suhu udara yang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat.
Ketua Hari Meteorologi Dunia (HMD) 2026 BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa pengamatan cuaca dilakukan secara berkelanjutan melalui jaringan yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.
“Saat ini, BMKG mengoperasikan lebih dari 180 stasiun meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta 44 radar cuaca. Dukungan ini memungkinkan BMKG secara rutin menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi sebagai dasar pengambilan langkah kesiapsiagaan,” tutur Rahmat.
Dengan dukungan sistem observasi tersebut, BMKG secara rutin merilis informasi suhu udara, prakiraan cuaca, hingga peringatan dini sebagai acuan bagi masyarakat dalam beraktivitas, terutama di tengah potensi peningkatan suhu di berbagai wilayah.
(rtd)





























