Berdasarkan Drewry World Container Index, tarif kontainer global naik 8,4% menjadi US$2.123 per kontainer 40 kaki pada pekan yang berakhir 12 Maret. Ini merupakan kenaikan minggu kedua berturut-turut setelah hampir dua bulan terus mengalami penurunan.
Perusahaan pelayaran kontainer Asia diperkirakan akan mencatat peningkatan bertahap pada tarif spot hingga pertengahan tahun, tulis analis Citigroup yang dipimpin Kaseedit Choonnawat. Proyeksi tersebut bergantung pada meredanya konflik setelah tujuan militer AS-Israel tercapai serta normalisasi biaya energi.
“Perkembangan geopolitik kini terjadi semakin sering, dan satu peristiwa saja dapat berdampak instan serta menimbulkan efek berantai yang luas, sehingga semakin sulit memprediksi tren pasar secara akurat,” kata Orient Overseas.
Risiko Gangguan
Gangguan akibat perang kini mengguncang rantai pasok global, memaksa perusahaan pelayaran menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penghentian transit hingga lonjakan biaya bahan bakar.
“Pengaturan transshipment yang rumit juga menambah tantangan operasional,” ungkap pihak Yang Ming. Mereka mencatat adanya pengurangan kapasitas pada rute Timur Tengah yang memberikan tekanan tambahan pada operasi pelabuhan, meningkatkan risiko kemacetan terminal, serta mendongkrak premi asuransi dan biaya bunker (bahan bakar).
Cosco Shipping Holdings Co, maskapai pelayaran terbesar di China, serta Evergreen Marine termasuk di antara perusahaan Asia yang telah menangguhkan pemesanan untuk rute Timur Tengah. Langkah ini mengikuti jejak rival global seperti Maersk, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM.
Meski situasi sulit, analis Bloomberg Intelligence, Kenneth Loh, menilai perusahaan Asia mungkin memiliki keunggulan dibandingkan rival mereka dari Eropa berkat “kepemimpinan biaya dan peningkatan skala yang agresif.” Sebaliknya, perusahaan Eropa lebih memprioritaskan keandalan jadwal dan layanan premium.
“Sejauh ini, strategi perusahaan pelayaran China dan Taiwan tampak berjalan baik, memperkuat prospek mereka di tahun 2026 dibandingkan rekan-rekan global lainnya,” ujar Loh.
Loh menambahkan bahwa pelayaran dengan dominasi kuat di jalur perdagangan Asia, terutama rute yang dikuasai China, dapat memetik keuntungan dari ketahanan ekspor China. Tercatat ekspor China naik lebih cepat dari perkiraan pada awal tahun ini, tepat sebelum serangan AS dan Israel ke Iran terjadi.
Meski pemesanan di Timur Tengah ditangguhkan, dampaknya dinilai belum sebesar krisis Laut Merah di awal. Judah Levine, kepala riset di platform Freightos Group, menjelaskan bahwa dari perspektif kontainer, hanya sekitar 3% volume global yang melewati Selat Hormuz.
Namun, eksposur yang terbatas ini tetap bisa menjadi bumerang jika konflik terus berlarut. Lee A. Klaskow dari Bloomberg Intelligence memperingatkan, “Jika selat ditutup selama lebih dari tiga bulan, kenaikan harga energi akan memicu inflasi dan menghancurkan permintaan pasar.”
(bbn)





























