“Baru bulan apa sekarang? Maret. Data triwulan pertama belum keluar, triwulan kedua belum keluar. Jadi biar ekonomi ke sana, pasti naik ke atas,” katanya.
Purbaya juga mengingatkan investor agar tidak panik terhadap fluktuasi yang terjadi dalam jangka pendek. Namun, dia mengimbau masyarakat tetap berhati-hati dalam memilih saham.
“Jadi enggak usah takut teman-teman, asal jangan beli saham gorengan,” ujarnya.
Selain itu, posisi fiskal pemerintah yang relatif terjaga juga dinilai menjadi faktor penting yang mendukung optimisme terhadap pasar saham Indonesia.
Dia menjelaskan pengalaman Indonesia menghadapi berbagai siklus ekonomi global juga menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Misalkan, dia mencontohkan, posisi Indonesia yang telah beberapa kali menghadapi lonjakan harga minyak dunia dan tekanan ekonomi global lainnya.
“Kita sudah pernah mengalami harga minyak tinggi berkali-kali. Knowledge-nya enggak hilang, masih ada di kepala. Jadi harusnya kita akan survive,” ungkapnya.
Dia menyarankan investor tetap selektif dalam memilih saham. Dia menilai kondisi pasar saat ini justru dapat dimanfaatkan untuk mengoleksi saham perusahaan yang memiliki fundamental kuat.
“Kalau saya bilang iya [waktu tepat beli saham]. Jadi beli saham yang bagus buat serok-serok,” imbuhnya.
Ketegangan geopolitik dan meningkatnya ketidakpastian fiskal belakangan menyeret sentimen negatif bagi pasar saham domestik.
IHSG Melorot
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada penutupan perdagangan kemarin. Terlebih lagi IHSG melemah terdalam saat sebagian besar Bursa Saham Asia tengah menguat.
IHSG ditutup turun 1,61% atau kehilangan 114,92 poin di posisi 7.022,28 pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Transaksi terpantau cukup ramai dengan aksi jual, dengan nilai transaksi sepanjang hari mencapai Rp15,98 triliun dan volume perdagangan sentuh 32,07 miliar saham. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 1,67 juta kali jual–beli.
IHSG sama–sekali tidak mampu menguat, posisi tertinggi pun hanya bertahan di level 7.120,18, seiring bergulirnya perdagangan Bursa Saham Indonesia terus melemah hingga mencapai posisi terendah 6.917.
Kenaikan tertinggi dialami oleh Hang Seng (Hong Kong) mencapai 1,45% di penutupan perdagangan saham Bursa Asia, menyusul SENSEX (India) yang ditutup menguat 1,26%, KOSPI (Korea Selatan) meninggi 1,14%, Straits Time (Singapura) menguat 0,55%, Shenzhen Comp. (China) terapresiasi 0,16%, dan CSI 300 (China) menghijau 0,05%.
Sementara itu di sisi berseberangan, paling lesu– IHSG (Indonesia) drop 1,61%, KOSDAQ (Korea Selatan) melemah 1,27%, menyusul PSEI (Filipina) turun 0,86%, TOPIX (Jepang) jatuh dengan pelemahan 0,5%, SETI (Thailand) merah 0,31%, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) melemah 0,18%, TW Weighted Index (Taiwan) ambles 0,17%, KLCI (Malaysia) terpeleset 0,13%, dan NIKKEI 225 (Tokyo) melemah 0,13%.
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Senin tutup dagang hari ini, rupiah kembali lesu di hadapan dolar Amerika Serikat. US$1 setara dengan Rp16.990. Rupiah melemah 0,27% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah tak sendirian. Di Asia saat ini, sejumlah mata uang loyo di hadapan dolar AS. Baht Thailand memimpin pelemahan dengan penurunan 0,66%, Peso Filipina melemah 0,24%, kemudian Dolar Taiwan drop 0,09%, dan Dollar Hong Kong terdepresiasi 0,03%.
Adapun rupiah dan mata uang Asia lain tertekan lantaran sentimen global, mulai dari peningkatan eskalasi konflik Timur Tengah yang menguatkan kembali dolar AS sebagai Safe Haven, hingga sentimen domestik menyoal kekhawatiran arus capital outflows seiring disiplin fiskal yang berpotensi melebihi batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
(mfd/naw)



























