Harga Minyak
Lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan distribusi Selat Hormuz menyebabkan harga minyak kembali naik dan berada di atas US$100 per barel.
Melansir data real time Bloomberg, harga minyak jenis brent tercatat US$102,4 per barel. Sedangkan West Texas Intermeidate (WTI) berada di US$97,59 per barel.
Secara bulanan, harga minyak telah naik lebih dari 50% dibanding bulan sebelumnya, mencerminkan tekanan pasokan akibat gangguan di Selat Hormuz serta adanya pemangkasan produksi oleh negara produsen minyak seperti Kuwait, Uni Emirat Arab lantaran kondisi penyimanan yang penuh.
Bagi pasar Indonesia, kenaikan harga minyak bisa memperlebar defisit fiskal, di sisi lain tekanan pada biaya energi ini juga bisa memicu inflasi domestik dan mempersempit ruang kebijakan moneter. Dengan asumsi harga rata-rata minyak dalam APBN yang berada di bawah level pasar hari ini, risiko tekanan fiskal juga ikut meningkat.
Penguatan Dolar AS
Konsekuensi yang lahir dari kenaikan harga minyak adalah kembali menguatnya otot dolar AS. Penguatan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dipicu oleh kombinasi harga energi yang berada di level tinggi, dan ekspektasi bahwa pelonggaran kebijakan moneter AS mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, seperti harapan pelaku pasar.
Tekanan dari dolar AS telah terasa di hampir semua aset di pasar negara berkembang, tak terkecuali rupiah. Sejak awal Maret akhir pekan lalu, mata uang Asia melemah tajam. Won Korea Selatan, baht Thailand, dan peso Filipina yang paling terpukul dengan pelemahan sebanyak hampir 4%.
Sementara rupiah, memang pelemahannya relatif terbatas sebesar 1,02% hanya lebih buruk daripada yuan offshore dan dolar Hong Kong. Meski begitu, beberapa analis memperkirakan rupiah dapat bergerak menuju Rp17.000/US$ jika tekanan eksternal terus berlanjut.
Selain rupiah, tekanan bagi Indonesia juga datang dari pasar surat utang. Arus keluar modal asing semakin deras dan tercatat per 11 Maret lalu, sepanjang bulan outflow di pasar obligasi telah mencapai US$544 juta.
Pada Jumat (13/3/2026), aksi jual terjadi di pasar surat utang domestik. Semua tenor mencatatkan kenaikan imbal hasil (yield).
Yield tenor pendek seperti 1Y naik 8,7 basis poin ke level 5,58%, sementara tenor 2Y naik 4,8 bps menjadi 6%. Tenor 3Y juga tertekan naik 8,8 bps menjadi 6,07%.
Tekanan juga merembet ke tenor panjang. Yield surat utang 10Y, yang menjadi acuan utama pasar naik 6,9 bps ke level 6,79%. Bahkan, pada tenor yang lebih panjang seperti 18Y, kenaikan yield mencapai 12,9 bps ke 6,92%.
Stagflasi Global
Kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemah menciptakan kondisi stagflasi. Di satu sisi ekonomi stagnan, tetapi inflasi tetap terjadi. Lonjakan harga energi lantaran konflik berkepanjanngan berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan konsumsi di berbagai negara.
Sejumlah analis menilai gangguan pasokan energi saat ini merupakan gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak modern. Risiko stagflasi berdampak pada kebijakan moneter global. Selama dua tahun terakhir, pasar berharap bank sentral negara maju seperti The Fed, akan menurunkan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun lonjakan harga energi berpotensi menahan kebijakan tersebut.
Jika inflasi tetap tinggi akibat kenaikan harga minyak, ruang pelonggaran moneter jadi semakin terbatas. Kondisi ini juga dapat mendorong penguatan aset dolar lebih lanjut, dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.
Di tengah kondisi dan risiko yang ada, periode libur pasar menjelang Idul Fitri jadi fase yang cukup kritis. Sebab, selama pasar domestik tutup, perkembangan global terus terjadi dan berubah dengan cepat.
(dsp/aji)




























