Bagi kawasan Asia, penurunan harga minyak berpengaruh signifikan terhadap arah perekonomian dan sentimen aset-aset keuangan mereka, mengingat sebagian besar negara di kawasan ini merupakan importir energi.
Dalam konteks rupiah, pergerakan hari ini menunjukkan bahwa pasar masih bergerak hati-hati. Penguatan rupiah yang relatif tipis mencerminkan bahwa investor belum sepenuhnya keluar dari mode defensif.
Pelaku pasar masih menunggu kejelasan arah konflik serta bagaimana respons negara produsen minyak serta lembaga internasional dalam menjaga stabilitas pasokan energi global.
Jika harga minyak bertahan di bawah US$90 per barel seperti pagi ini pada 09:10 WIB hingga beberapa waktu ke depan, maka tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda. Sebaliknya, jika konflik kembali memicu kenaikan harga minyak, maka volatilitas di pasar keuangan domestik dapat berpotensi meningkat kembali.
(dsp/aji)































