Penawaran (bid) Masuk
Dimenangkan
Bid-to-cover ratio
SPNS06042026
±1 bulan
Rp1,70 T
Rp1,20 T
1,42x
SPNS08092026
±6 bulan
Rp1,71 T
Rp1,65 T
1,04x
SPNS23112026
±9 bulan
Rp8,17 T
Rp7,75 T
1,05x
Sumber: Kemenkeu
Sepertinya pasar sedang bersikap defensif terhadap risiko durasi akibat ketidakpastian perang saat ini. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, volatilitas harga minyak, serta ketidakjelasan arah suku bunga global makin mendorong investor mengambil posisi lebih defensif.
Dalam kondisi seperti ini, surat utang berjangka panjang menjadi kurang menarik lantaran lebih sensitif terhadap perubahan yield. Sehingga, investor lebih memilih instrumen jangka pendek yang lebih fleksibel dan memiliki risiko harga lebih kecil.
Tenor Menengah-Panjang
Sementara itu, dalam seri PBS030 yang jatuh tempo pada 2028 (tenor 2Y) sama sekali tidak dimenangkan oleh pemerintah meski ada penawaran yang masuk sebesar Rp2,8 triliun. Keputusan ini kemungkinan diambil karena yield yang diminat investor dinilai terlalu tinggi.
Sepertinya pemerintah tetap berupaya menjaga biaya utang tetap terkendali.
|
Seri |
Tenor |
Penawaran (bid) Masuk |
Dimenangkan |
Bid-to-cover ratio |
|
PBS030 |
2Y |
Rp2,80 T |
- |
- |
|
PBS040 |
4Y |
Rp2,77 T |
Rp0,95 T |
2,91x |
|
PBSG002 |
7Y |
Rp2,54 T |
Rp0,95 T |
2,67x |
Sumber: Kemenkeu
Sementara itu, seri PBS040 (tenor 4Y) dan PBSG002 (tenor 7Y) masih berhasil menarik minat investor, meski dalam skala yang lebih terbatas. Pemerintah hanya memenangkan penawaran yang masuk masing-masing Rp0,95 triliun dari kedua seri tersebut.
Begitu juga dengan seri bertenor panjang, minat investor cukup tinggi hingga 5,67 kali namun pemerintah menolak sebagian besar penawaran. Seri PBS034 yang jatuh tempo pada 2039 (tenor 13Y) mencatat penawaran hingga Rp9,3 triliun, namun pemerintah hanya memenangkan Rp0,35 triliun.
Namun pada seri PBS038 yang jatuh tempo pada 2049, pemerintah tetap menyerap sebesar Rp2,15 triliun dengan bid-to-cover ratio sekitar 4,2 kali. Meski begitu, porsi penerbitan tenor panjang tetap jauh lebih kecil daripada tenor pendek.
Hasil lelang memperlihatkan bahwa 70% dari total penerbitan berasal dari seri pendek dengan tenor di bawah satu tahun. Menurut Tim Mega Capital Sekurita, hal ini disebabkan oleh rencana pemerintah untuk menambah injeksi pada Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp100 triliun ke sistem perbankan.
"Kami memperkirakan Kementerian Keuangan masih mempertahankan injeksi SAL sebesar Rp200 triliun sejak September tahun lalu, meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan kredit masih terbatas," sebut Laporan Mega Capital Sekuritas yang disusun oleh Lionel Priyadi, Muhamad Haikal, dan Nanda Puput Rahmawati.
Hasil lelang kemarin menunjukkan bahwa pasar surat utang domestik masih relatif likuid meski ada perubahan selera risiko akibat ketidakpastian global yang semakin tinggi.
(dsp/aji)





























