Logo Bloomberg Technoz

Ke depan, TOBA berharap kontribusi dari segmen waste management dan lini bisnis hijau lainnya dapat secara bertahap menggantikan peran batu bara dan PLTU terhadap pendapatan maupun EBITDA perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Head of Corporate Strategy TBS Energi Utama, Nafi Achmad Sentausa menambahkan pelemahan harga batu bara turut menjadi faktor yang menekan EBITDA perusahaan sepanjang tahun lalu. 

Dia menyebut harga batu bara acuan ICI 5 tercatat turun hingga 73,4% sepanjang periode Januari hingga Desember 2025, sehingga perseroan mempercepat transformasi bisnis untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas.

Lanjut Merugi

Dari sisi kinerja keuangan, TOBA membukukan rugi bersih US$162,26 juta sepanjang 2025, berbalik dari posisi laba bersih US$25,35 juta pada 2024. 

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan perseroan tercatat US$365,86 juta, turun 5,2% secara tahunan dibandingkan realisasi US$385,79 juta pada 2024.

Di saat yang sama, beban pokok pendapatan justru meningkat 8,7% (year-on-year) menjadi US$336,17 juta dari sebelumnya sekitar US$309,21 juta.

Kenaikan biaya tersebut menekan laba bruto perusahaan hingga anjlok 61,2% menjadi US$29,68 juta dibandingkan US$76,57 juta pada tahun sebelumnya.

Tekanan ini berlanjut pada kinerja operasional, di mana perseroan mencatatkan rugi usaha US$44,95 juta, berbalik dari laba usaha US$47,15 juta pada 2024 atau setara dengan penurunan sekitar 195,3% secara tahunan.

Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat US$793,09 juta, turun 11,3% dibandingkan posisi akhir 2024.

Sementara itu total liabilitas meningkat 26,4% secara tahunan menjadi US$577,77 juta, sedangkan ekuitas merosot 50,7% menjadi US$215,32 juta dari sebelumnya US$436,66 juta.

Meski demikian, posisi likuiditas perseroan menunjukkan peningkatan dengan kas dan setara kas mencapai US$85,61 juta pada akhir 2025, naik 26,2% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar US$67,83 juta.

Bisnis Hijau TOBA

Nafi menjelaskan, lini bisnis baru seperti waste management, renewable energy, dan ekosistem kendaraan listrik memiliki karakter kontrak jangka panjang dengan arus kas yang lebih stabil dan dapat diprediksi dibandingkan bisnis berbasis komoditas. 

Dalam bisnis pengelolaan limbah, perseroan kini memiliki lima segmen utama, mulai dari municipal solid waste, industrial and commercial waste, medical and toxic industrial waste, material recovery facility, hingga energy from waste, dengan operasi di Indonesia dan Singapura.

Saat ini perusahaan mengelola sekitar 1 juta ton sampah per tahun dengan tingkat utilisasi fasilitas di atas 80%, yang menurut manajemen masih menyisakan ruang pertumbuhan, khususnya di Singapura. 

Di sisi energi bersih, TOBA juga telah mengoperasikan pembangkit mini hidro berkapasitas 6 MW sejak awal 2025 serta tengah membangun proyek floating solar 46 MWp di Batam yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.

Selain itu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik perseroan juga menunjukkan peningkatan, dengan jumlah motor listrik yang terhubung dalam jaringan perusahaan mencapai sekitar 7.500 unit, naik dari sekitar 3.800 unit pada tahun sebelumnya, sementara jumlah stasiun penukaran baterai bertambah dari 282 menjadi 364 unit.

(art/naw)

No more pages