Menurutnya, kondisi sepi pembeli tidak hanya terjadi di Blok B, tetapi juga dirasakan di beberapa bagian pasar lainnya.
“Saya jual rugi Rp100 ribu juga nggak apa-apa. Jam segini barang saya jual murah, boleh nggak Pak? Yang penting habis,” ujarnya. Padahal, dia mengaku harga seharusnya dibanderol Rp250 ribu.
“Blok B sepi, Pak. Blok A juga sepi,” keluhnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang pakaian muslim lainnya, Siti (42), yang mengatakan penjualan Ramadan tahun ini belum menunjukkan peningkatan berarti dibandingkan hari biasa.
Siti menilai kondisi ekonomi masyarakat saat ini belum sepenuhnya pulih membuat pembeli lebih menahan belanja. Apalagi. kondisi lokasi toko juga sangat menentukan banyaknya pembeli.
“Biasanya kalau sudah masuk pertengahan Ramadan mulai ramai, tapi sekarang masih biasa saja. Kadang sehari cuma beberapa potong yang terjual,” ujar Siti, ditemui terpisah di lokasi yang sama.
"Yang di lantai atas, lantai 5 ini jarang ada yang mampir," sambungnya menegaskan.
Namun, tidak semua pedagang mengalami hal yang sama. Rudi (38), pedagang busana muslim di lantai dasar Blok A, mengaku Ramadan tahun ini justru membawa berkah bagi usahanya.
Menurutnya, lokasi toko yang berada di lantai bawah dan dekat pintu masuk pasar menjadi faktor utama yang mendongkrak penjualan.
“Alhamdulillah naik lebih dari dua kali lipat dibanding bulan biasa. Kalau hari biasa mungkin 10–15 potong, sekarang bisa sampai 30 potong lebih,” katanya
“Karena di bawah dan dekat pintu masuk, jadi orang lewat pasti lihat. Banyak yang langsung mampir,” ujarnya.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang selama Ramadan masih belum merata, dengan sebagian pedagang menikmati lonjakan pembeli sementara lainnya masih bergulat dengan sepinya pengunjung.
(ell)
































