Kedua, menurut Josua, pemerintah perlu menurunkan kerentanan eksternal dengan langkah cepat di sisi energi dan perdagangan. Hal itu dapat dilakukan dengan mengamankan pasokan dan jalur logistik, memperkuat tata kelola impor energi agar lebih efisien, serta mengendalikan biaya angkut dan distribusi yang mudah menular ke inflasi.
Ketiga, pemerintah perlu mendukung stabilitas pasar keuangan dengan pengelolaan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang adaptif pada kondisi pasar dan memperkuat basis investor domestik, sembari memastikan komunikasi kebijakan dilakukan bersama Bank Indonesia (BI) agar pesan yang ditangkap pasar dapat satu arah yakni stabilitas nilai tukar, pasar obligasi, dan inflasi menjadi prioritas jangka pendek.
Keempat, karena tekanan utama bersumber dari lonjakan harga energi, pemerintah perlu menyiapkan skenario jika harga minyak mendekati atau melampaui US$100/barel.
“Karena pada skenario ini guncangannya ke fiskal, neraca pembayaran, dan inflasi akan jauh lebih besar dan berpotensi memperpanjang pelemahan rupiah serta tekanan di SBN dan saham,” jelas Josua.
Gejolak Pasar
Josua mengatakan pergerakan rupiah yang mendekati Rp17.000/US$, keluarnya dana asing dari pasar SBN, dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tajam pada dasarnya adalah respon dari guncangan eksternal yang tiba-tiba meningkat, terutama eskalasi perang di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi, mendorong penguatan dolar AS, dan membuat pelaku pasar global mengurangi kepemilikan aset berisiko di negara berkembang.
Di Asia, pelemahan sentimen ini terlihat dari penurunan saham kawasan yang dalam, yang dikaitkan dengan kombinasi kenaikan harga energi, penguatan dolar, dan ketegangan geopolitik.
Diketahui, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF)tak banyak bergerak. Dalam pembukaan perdagangan Jumat (6/3/2026), rupiah di pasar offshore stagnan di Rp16.933/US$, sama dengan posisi penutupan kemarin.
Dalam tiga hari terakhir, volatilitas rupiah offshore cenderung tinggi menyusul respons pasar terhadap perang Timur Tengah dan langkah intervensi yang dilakukan oleh bank sentral. Pergerakan rupiah selama tiga hari berada di rentang Rp16.883-16.943/US$.
Pada dini hari waktu Indonesia, rupiah sempat diperdagangkan Rp16.982/US$, dengan kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,55% ke 99,31.
Dari sisi dasar ekonomi, menurut Josua, perang yang meningkatkan risiko gangguan jalur pelayaran energi membuat pasar menilai ulang prospek neraca perdagangan dan neraca pembayaran negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Dia menuturkan, Selat Hormuz merupakan jalur kunci pasokan minyak dunia dan dinilai menjadi zona konflik sehingga risiko hambatan pasokan dan biaya angkut meningkat.
“Ketika risiko ini naik, harga minyak cenderung membawa selisih tambahan risiko, dan pada skenario gangguan Selat Hormuz, harga minyak dapat melonjak jauh di atas US$100/barel serta bertahan sampai kondisi pelayaran normal kembali,” ucap dia.
Dampaknya bagi Indonesia, lanjut dia, dapat bekerja melalui dua jalur besar. Pertama, impor minyak dan biaya logistik naik sehingga neraca perdagangan dan transaksi berjalan memburuk. Bahkan kenaikan harga minyak 10% dapat menurunkan neraca transaksi berjalan sekitar 0,12% dari PDB, ditambah risiko biaya angkut yang membesar bila rute pelayaran terganggu.
Kedua, pasar melihat beban anggaran berpotensi meningkat karena kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Dalam kerangka anggaran 2026, kenaikan harga minyak sebesar 10% diperkirakan dapat melebarkan defisit anggaran sekitar Rp77 triliun.
“Ketika kekhawatiran defisit kembar menguat, investor biasanya meminta imbal hasil lebih tinggi pada SBN dan lebih selektif pada aset rupiah, yang kemudian menekan kurs,” ungkap Josua.
Lebih jauh dia memandang tekanan di pasar SBN dan rupiah akan saling menguatkan melalui mekanisme arus modal. Saat pelaku asing melepas SBN, imbal hasil naik, harga turun, dan kebutuhan rupiah untuk membiayai arus keluar meningkat; pada saat yang sama, pelemahan rupiah membuat sebagian investor memilih mengurangi risiko lebih jauh.
Di sisi lain, BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar di tengah eskalasi konflik, serta melakukan intervensi yang tegas dan konsisten di pasar valuta asing dan pasar obligasi.
Sementara di level kawasan, kenaikan harga minyak juga memperbesar kekhawatiran inflasi dan defisit perdagangan bagi negara Asia yang merupakan pengimpor minyak, sehingga tekanan arus modal tidak hanya dialami Indonesia.
Kemudian IHSG ikut tertekan karena kombinasi sentimen global yang memburuk dan naiknya imbal hasil SBN yang menjadi acuan biaya dana di dalam negeri.
“Ketika dolar menguat dan harga energi naik, pelaku pasar cenderung memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman dan lebih likuid, sementara saham negara berkembang biasanya menjadi sumber pengurangan risiko paling cepat karena mudah dijual,” ucap Josua.
Di sisi fundamental emiten, kenaikan imbal hasil SBN dan risiko inflasi energi menurunkan ruang penurunan suku bunga kebijakan, sehingga pasar menilai biaya pendanaan dan margin laba ke depan bisa lebih ketat, terutama bagi sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan daya beli.
(ell)




























