Logo Bloomberg Technoz

Salah satu faktor yang mempersulit proses ini adalah peran kuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Militer elite ini mengendalikan hingga 40% ekonomi Iran dan diyakini memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan siapa yang akan naik takhta.

Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ali Khamenei, menjadi salah satu kandidat kuat. Ia sempat terlibat dalam Perang Iran-Irak (1980-1988) yang mengukuhkan kekuasaan ayahnya, sebelum akhirnya menempuh studi agama di Qom. Pada 2019, ia dijatuhi sanksi oleh AS pada masa jabatan pertama Donald Trump.

Meski jarang muncul di publik, frekuensi kehadirannya meningkat dalam lima tahun terakhir seiring spekulasi mengenai kesehatan ayahnya. Mojtaba dikenal sangat dekat dengan Garda Revolusi, unit yang mengoordinasikan program rudal dan aliansi milisi regional Iran. Laporan Bloomberg pada Januari lalu juga menyebutkan bahwa ia mengawasi imperium investasi yang membentang dari Teheran hingga Dubai dan Frankfurt.

Sebagian pihak di Iran menilai penundaan pemilihan pemimpin baru justru menguntungkan para musuh negara tersebut.

"Apakah isu utama Iran saat ini benar-benar pemilihan pemimpin baru, atau masalah perang dan pertahanan tanah air?" tulis Mantan Menteri Transportasi Iran Abbas Akhoundi di platform X pada Rabu (4/3). "Tidakkah Anda berpikir bahwa terjebak dalam diskusi suksesi adalah perdebatan beracun yang diinginkan oleh musuh?"

Siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya akan membawa dampak jauh melampaui Teheran, dengan AS dan Israel mengawasi dengan cermat siapa yang akan berkuasa. Meski AS memberikan berbagai penjelasan mengenai tujuan perang yang dilancarkannya terhadap Teheran pekan lalu, Washington pada beberapa kesempatan juga memberi sinyal kesediaan untuk bekerja sama dengan sisa pemerintahan yang kini tengah diperanginya.

Bagan Pemerintahan Iran

"Kemungkinan terburuk adalah seseorang yang mengambil alih ternyata sama buruknya dengan pemimpin sebelumnya, bukan? Itu bisa saja terjadi," ujar Trump di Ruang Oval, Selasa lalu. "Anda melewati semua (perang) ini, lalu lima tahun kemudian baru menyadari bahwa orang yang berkuasa tidak lebih baik."

Trump menambahkan bahwa ia ingin melihat pemimpin yang lebih moderat muncul di Iran. Namun, ia mencatat bahwa kandidat-kandidat utama pilihan versinya telah tewas dalam serangan, dan kelompok pejabat lapis kedua "mungkin juga sudah tewas" berdasarkan laporan yang ia terima.

"Jadi saya rasa gelombang ketiga (pemimpin) akan muncul dalam waktu dekat," tambahnya.

(bbn)

No more pages