Koreksi di pasar obligasi global belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Imbal hasil (yield) Treasury 10-tahun naik selama empat hari berturut-turut karena kekhawatiran bahwa tingginya harga minyak akan memicu tekanan inflasi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghambat kemampuan Bank Sentral AS tau Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga.
Menjelang rilis laporan payrolls (data tenaga kerja), data terbaru menunjukkan klaim pengangguran berada di level terendah dalam setahun terakhir. Laporan ketenagakerjaan yang dirilis Jumat besok diharapkan menunjukkan moderasi angka perekrutan setelah kenaikan kuat di bulan Januari, sementara tingkat pengangguran diprediksi tetap stabil.
“Semakin kuat datanya akan semakin baik, mengingat adanya kenaikan ekspektasi inflasi akibat harga energi,” ungkap tim Market Intelligence JPMorgan yang dipimpin Andrew Tyler. “Angka yang lebih lemah memang akan meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, namun risikonya adalah stagflasi dalam jangka pendek.”
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun naik tiga basis poin menjadi 4,13%. Dolar AS menguat 0,4%.
Gubernur The Fed Richmond, Tom Barkin, menyebut bahwa respons bank sentral terhadap perang akan bergantung pada seberapa lama dampak ekonomi tersebut bertahan. Sementara itu, Chris Senyek dari Wolfe Research memperkirakan jika konflik mereda dalam beberapa pekan ke depan, lonjakan minyak hanya bersifat sementara, dengan harga minyak Brent diperkirakan kembali turun ke kisaran harga kontrak berjangka sekitar US$65 per barel.
“Jika harga keseimbangan minyak menetap di level yang lebih tinggi, jelas masih akan ada tekanan kenaikan pada imbal hasil obligasi 10 tahun,” ujarnya.
Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan risiko kembali terjadinya pelemahan korelasi antara saham dan obligasi. Namun, obligasi masih dapat berfungsi sebagai instrumen diversifikasi terhadap risiko ekuitas, menurut para analis Morgan Stanley, termasuk Serena Tang.
“Jika guncangan harga minyak yang berkepanjangan mendorong pertumbuhan ekonomi melemah dan inflasi meningkat, kita mungkin akan melihat kembali situasi seperti periode 2021–2023 ketika saham dan obligasi sama-sama melemah,” kata mereka.
Para analis menyimpulkan bahwa apakah obligasi jangka pendek atau jangka panjang lebih efektif sebagai instrumen diversifikasi akan bergantung pada apakah risiko inflasi atau kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih dominan ke depan.
(bbn)





























