Hingga kini, belum jelas apakah AS telah menginformasikan rencana operasi militer tersebut kepada India. Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri India belum memberikan komentar, begitu pula dengan Kedutaan Besar AS di New Delhi.
"Dengan menenggelamkan kapal yang baru saja pulang dari latihan multilateral yang dipandu India, Washington secara efektif mengubah lingkungan maritim India menjadi zona perang. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang otoritas India di halaman belakangnya sendiri," ujar Brahma Chellaney, profesor emeritus studi strategis di Centre for Policy Research, New Delhi.
Tenggelamnya IRIS Dena terjadi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sri Lanka di Samudra Hindia, sebuah koridor pelayaran yang sangat sibuk. Kehadiran kapal selam AS di wilayah tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan rute perdagangan serta risiko strategis bagi India, yang sering melakukan patroli bersama Sri Lanka di perairan tersebut.
IRIS Dena berada di India pada 15-25 Februari untuk mengikuti International Fleet Review bersama kapal-kapal dari 40 negara lain, termasuk AS dan Rusia.
"Insiden ini sekali lagi menunjukkan bahwa angkatan laut tidak bertempur seperti tentara darat yang saling melempar pasukan di atas garis batas tanah, melainkan menyerang di mana pun musuh atau jalur perdagangannya ditemukan," kata Pradeep Chauhan, purnawirawan Laksamana Madya angkatan laut India. "Dengan China dan Rusia yang juga mengirimkan pasukan laut ke wilayah ini, situasi menjadi sangat berisiko bagi semua pihak."
Kecaman Terhadap Modi
Pemerintahan Modi juga tengah menghadapi kritik di dalam negeri karena tidak secara tegas mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran. Modi sebelumnya mengunjungi Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tak lama sebelum serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran. Langkah tersebut memicu kritik dari tokoh oposisi yang menilai kunjungan itu sebagai persetujuan tidak langsung terhadap serangan tersebut.
Konflik ini menempatkan India pada posisi yang sangat sulit. New Delhi memiliki hubungan historis dengan Iran dan sebelumnya membeli minyak dalam jumlah besar dari negara tersebut. Di saat yang sama, Modi juga menghadapi hubungan yang tidak stabil dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, setelah AS tahun lalu mengenakan tarif 50% terhadap ekspor India sebelum kemudian mengumumkan kesepakatan dagang yang menurunkan tarif tersebut.
Hubungan dengan AS menjadi sebuah keseimbangan yang rumit bagi India, karena negara itu berupaya mengelola relasi dengan berbagai aktor regional penting sekaligus melindungi warga negaranya serta menjaga kepentingan energi, keamanan, dan investasi, menurut Bloomberg Economics.
“Insiden ini berisiko menimbulkan gesekan dengan Washington sekaligus memicu tekanan domestik bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi,” tulis analis geoekonomi Bloomberg Economics, Chetna Kumar dan Adam Farrar, pada Kamis.
Meski serangan terhadap kapal tersebut menciptakan preseden yang tidak nyaman dan meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintah India dan Sri Lanka terkait perang ini, mereka menilai “kami tidak melihatnya sebagai indikasi bahwa konflik meluas hingga Asia Selatan.”
(bbn)





























