Dalam kondisi seperti ini, strategi rotasi ke saham dengan pendapatan berbasis dolar AS atau USD earners dinilai masih relevan karena perusahaan eksportir biasanya mendapatkan keuntungan dari sisi translasi ketika rupiah melemah.
“Karena itu sektor seperti energi, batu bara, logam, dan beberapa emiten berbasis ekspor biasanya menjadi tujuan rotasi dana investor sebagai bentuk defensive positioning,” kata dia.
Pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026), rupiah dibuka menguat terbatas 0,03% ke Rp16.880/US$ di perdagangan pasar spot. Sedangkan indeks dolar AS melemah 0,07% ke level 98,7.
Rupiah terapresiasi secara terbatas bersama mata uang Asia lainnya yang bergerak di zona hijau. Yen Jepang yang menguat 0,18% menjadi penopang pergerakan mata uang Asia lainnya pagi ini.
Meski ada penguatan terbatas, pergerakan rupiah hari ini dipenuhi oleh kekhawatiran investor terhadap pasar domestik yang semakin diperkuat dengan adanya penurunan outlook oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif.
Sejak awal tahun rupiah telah melemah sebesar 1,15% dan menempati posisi ketiga terlemah di pasar mata uang Asia, setelah rupee India (2,47%) dan won Korea Selatan (1,59%).
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai sektor yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah emiten berbasis komoditas ekspor.
Menurutnya, sektor pertambangan batu bara dan mineral seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO), hingga hulu migas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan sektor minyak sawit berpotensi memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut.
“Pendapatannya dalam dolar AS, sementara beban operasional mayoritas dalam rupiah, sehingga margin otomatis melebar,” ujar Wafi.
Dia menambahkan, secara historis sektor energi, pertambangan logam dasar, dan agribisnis berbasis ekspor kerap mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama periode depresiasi rupiah yang tajam.
Di sisi lain, sektor consumer goods dan manufaktur dinilai masih berpotensi mengalami tekanan karena kenaikan biaya bahan baku impor baru akan tercermin pada laporan keuangan kuartal mendatang.
Volatilitas nilai tukar juga dinilai dapat memicu risiko peningkatan kredit bermasalah (NPL) pada bank yang menyalurkan pembiayaan kepada korporasi dengan pendapatan rupiah tetapi memiliki utang dolar AS tanpa lindung nilai.
Meski demikian, dia menilai kondisi tersebut lebih mencerminkan siklus makroekonomi ketimbang risiko sistemik mengingat likuiditas serta permodalan perbankan domestik masih relatif kuat.
Kinerja Sektoral
Tekanan tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga pada pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah hingga 5% pada perdagangan Rabu (4/3/2026).
Dengan pelemahan tersebut, IHSG secara akumulasi turun 10,91% sepanjang tahun berjalan (year to date).
Koreksi juga terjadi pada mayoritas indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg hingga perdagangan Kamis (5/3/2026), sebagian besar sektor masih berada di zona negatif secara year to date.
Penurunan terdalam terjadi pada IDX Infrastructure yang terkoreksi 22,49%, diikuti IDX Energy yang melemah 17,20% dan IDX Technology sebesar 16,87%.
Pelemahan juga terjadi pada IDX Property & Real Estate yang turun 14,93% serta IDX Consumer Cyclicals yang terkoreksi 11,26%.
Selanjutnya, IDX Industrial tercatat melemah 9,93%, IDX Healthcare turun 9,67%, dan IDX Finance terkoreksi 8,81%.
Sementara itu, IDX Consumer Non-Cyclicals mencatatkan penurunan sebesar 8,31% dan IDX Transportation & Logistics melemah sekitar 4%.
Di tengah tekanan tersebut, IDX Basic Materials menjadi satu-satunya sektor yang masih mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan 8,43% sepanjang tahun berjalan, bahkan mengungguli kinerja IHSG.
(art/naw)































