Target ini menunjukkan bahwa China "tidak akan berbelanja secara sembrono hanya untuk mengejar level pertumbuhan tertentu," ujar Lynn Song, Kepala Ekonom untuk China Raya di ING Bank NV. "Langkah ini akan memberikan fleksibilitas lebih bagi pengambil kebijakan terkait target tahun 2026."
Menanggapi rencana fiskal tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun bergerak turun karena investor melihat target defisit anggaran tetap stabil. Sementara itu, yuan offshore naik 0,2% terhadap dolar AS, melanjutkan reli dari sesi sebelumnya.
Perdana Menteri Li Qiang diperkirakan akan mengumumkan target ini secara resmi pada Kamis pagi di Beijing. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dukungan fiskal tahun ini akan dipertahankan pada level yang hampir sama, namun subsidi untuk pembelian barang konsumsi justru dikurangi.
Pendanaan pemerintah untuk program tukar tambah (trade-in) turun menjadi 250 miliar yuan dari sebelumnya 300 miliar yuan. Dampak program ini memang sudah mulai memudar dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya basis perbandingan dari periode sebelumnya.
Bayang-bayang lain yang memengaruhi proyeksi ekonomi adalah rencana pertemuan antara pemimpin Xi Jinping dan Presiden Donald Trump. Hasil pertemuan tersebut dapat menentukan seberapa besar produk pabrik China dapat dijual ke pasar konsumen terbesar di dunia. Konflik yang meluas di Timur Tengah juga berisiko mengganggu jalur perdagangan serta mempersulit pertemuan yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa minggu mendatang.
Lonjakan ekspor menyumbang sekitar sepertiga dari pertumbuhan ekonomi China sebesar 5% pada tahun lalu, porsi tertinggi sejak 1997. Ketergantungan ini menyoroti ketidakseimbangan yang semakin dalam, karena upaya meningkatkan konsumsi domestik sejauh ini belum mampu mengimbangi dampak runtuhnya pasar properti.
"Target PDB yang lebih rendah mencerminkan upaya berkelanjutan pemerintah untuk menyeimbangkan kembali ekonomi dan mengatasi ketimpangan struktural," kata Carlos Casanova, ekonom senior Asia di Union Bancaire Privee, Hong Kong. "Namun, pergeseran menuju konsumsi sulit terwujud kecuali sektor real estat distabilkan terlebih dahulu."
Target pertumbuhan yang konservatif juga mengurangi peluang munculnya stimulus besar-besaran. Pemerintah enggan meluncurkan pelonggaran ekonomi secara luas seperti pada masa perlambatan sebelumnya, karena khawatir memperburuk rasio utang terhadap PDB yang sudah mencatat rekor serta menekan margin keuntungan bank-bank milik negara.
Meski demikian, target tersebut masih berada di atas rata-rata pertumbuhan tahunan 4,17% yang dianggap pemerintah diperlukan selama dekade mendatang untuk menggandakan PDB per kapita antara 2020 hingga 2035. Xi Jinping memandang pencapaian tonggak ini sebagai langkah penting untuk menjadikan China sebagai “negara sosialis modern yang kuat” pada pertengahan abad.
Seiring mitra dagang China semakin menentang surplus perdagangan negara itu yang mencapai rekor, International Monetary Fund (IMF) termasuk pihak yang mendorong Beijing untuk mengadopsi model ekonomi yang lebih bertumpu pada konsumsi domestik.
Namun pemerintah masih kesulitan mengalihkan sumber daya ke rumah tangga, karena tetap memprioritaskan kemandirian industri demi alasan keamanan nasional. Sistem jaring pengaman sosial yang belum merata serta jam kerja yang semakin panjang juga membuat masyarakat enggan meningkatkan belanja.
Investor kini menunggu rincian rancangan program ekonomi pemerintah untuk lima tahun ke depan. Penetapan target khusus bagi kontribusi konsumsi terhadap perekonomian akan menjadi sinyal kuat komitmen Beijing untuk mengurangi ketergantungan pada model berbasis ekspor.
China juga mengumumkan rasio defisit anggaran utama akan dipertahankan pada level tertinggi sepanjang sejarah, yakni 4% dari produk domestik bruto (PDB). Hal ini menunjukkan kesediaan pemerintah untuk terus menjaga stimulus fiskal guna mendorong permintaan, sekaligus menggunakan utang pemerintah untuk mencegah perlambatan ekonomi lebih dalam.
Pemerintah pusat akan menerbitkan 1,3 triliun yuan obligasi khusus ultra-jangka panjang, sama seperti rencana pada 2025. Sementara itu, pemerintah daerah akan menjual 4,4 triliun yuan obligasi khusus baru, juga setara dengan tahun lalu.
Obligasi tujuan khusus tersebut tidak dihitung dalam defisit utama, karena dananya digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur, subsidi barang konsumsi dan peralatan bisnis, serta membayar utang di luar neraca.
Pendanaan untuk apa yang disebut sebagai “alat kebijakan pembiayaan baru” guna mempercepat proyek infrastruktur akan meningkat menjadi 800 miliar yuan tahun ini, dari 500 miliar yuan pada 2025. Dalam program ini, tiga bank kebijakan nasional akan menghimpun dana dan mengambil saham dalam proyek-proyek tersebut. Kebijakan ini menunjukkan niat Beijing untuk menstabilkan investasi aset tetap, yang pada tahun lalu mengalami kontraksi pertama sepanjang sejarah.
Selain subsidi barang konsumsi, pemerintah juga menyiapkan 100 miliar yuan untuk subsidi pinjaman dan jaminan pembiayaan guna mendorong permintaan domestik.
China mempertahankan target inflasi konsumen di 2%, setelah memangkasnya tahun lalu untuk mengakui adanya tekanan deflasi. Target ini dipandang sebagai batas atas. Harga konsumen tercatat stagnan pada 2025, menandai tingkat inflasi terlemah sejak 2009.
(bbn)































