Selain itu penguatan juga terjadi pada saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) melesat 5,98%, saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang melesat 4,35%, dan saham PT United Tractors Tbk (ACES) yang meninggi 3,06%.
Senada, saham perindustrian juga melesat hingga mendorong penguatan IHSG, saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) melejit 12,5%, saham PT Kokoh Inti Arebama Tbk (KOIN) melesat 9,88%. Saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menguat 6,2%.
Saham–saham LQ45 juga melesat di teritori ekspansif antara lain, saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menguat 7,6%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terbang 5,54%. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terapresiasi 4,94%, dan saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) semringah 4,92%.
Saham LQ45 lain, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turut melesat 3,59%, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terangkat 3,11%. Senada, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 2,96%, dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) meninggi 2,91%.
Kabar terbaru, Fitch Ratings resmi merevisi outlook atau prospek penerbitan surat utang global jangka panjang Indonesia dari semula stabil menjadi negatif dengan peringkat BBB.
Dalam laporan Fitch Ratings disebutkan, revisi prospek mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan erosi konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia, di tengah meningkatnya sentralisasi otoritas pembuatan kebijakan.
“Hal ini dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada cadangan eksternal,” demikian tertulis dalam laporan Fitch Ratings, mengutip Kamis.
Pasar tertuju terhadap Fitch yang menilai kebijakan yang bijaksana harus dipertahankan, termasuk kepatuhan terhadap batas defisit fiskal 3%. Namun, peningkatan fokus pada pencapaian target pertumbuhan 8% yang ambisius dan peningkatan pengeluaran sosial dapat menyebabkan campuran kebijakan fiskal dan moneter yang jauh lebih longgar, sehingga menciptakan risiko bagi stabilitas ekonomi makro dan keuangan.
Fitch Ratings menegaskan, peringkat mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan jangka menengah yang menguntungkan, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang moderat, dan cadangan eksternal yang moderat.
Bersamaan dengan itu, kekuatan ini dibatasi oleh penerimaan pendapatan yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, dan fitur struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dibandingkan dengan negara-negara dengan peringkat BBB.
(fad)





























