Logo Bloomberg Technoz

Was-Was APBN Hadapi Potensi Kenaikan Harga Minyak

Redaksi
04 March 2026 16:10

Defisit APBN 2025 Melebar, capai Rp371,5 Triliun per September. (Diolah dari Berbagai Sumber)
Defisit APBN 2025 Melebar, capai Rp371,5 Triliun per September. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada pekan lalu menimbulkan efek domino, terutama usai Selat Hormuz, jalur utama yang membawa seperlima minyak dunia ditutup. Imbasnya, potensi kenaikan harga minyak menjadi tak terhindarkan.

Dampak ini mau tidak mau dirasakan oleh Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dengan alokasi subsidi energi Rp210,06 triliun pada 2026. Indonesia dinilai menghadapi tekanan fiskal yang signifikan.

Ketahanan APBN pun dipertanyakan, terlebih usai sejumlah analis memproyeksi harga minyak dunia bahkan bisa mencapai lebih dari US$108/barel, jika eskalasi perang terbuka ini makin memanas. 


Meski begitu, pemerintah meyakini bahwa APBN akan baik-baik saja. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyebut pemerintah masih bisa mengendalikan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) meskipun harga minyak dunia mencapai level US$92/barel. 

“Saya hitung sampai US$92/barel pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Selasa (3/3/2026).