"Kita harus melihat seberapa lama kondisi ini akan bertahan," kata Williams kepada wartawan di Washington menanggapi dampak potensial terhadap inflasi AS.
Harga minyak dunia melonjak setelah AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran akhir pekan lalu. Imbal hasil (yield) Treasury dan harga emas turut merangkak naik seiring kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Williams menambahkan bahwa lonjakan harga gas mungkin akan berdampak "jauh lebih mendalam" bagi Eropa, dengan efek domino ke seluruh dunia. "Pertanyaan pentingnya adalah seberapa besar efek kuantitatifnya terhadap AS dan seberapa persisten efek tersebut terhadap stabilitas harga," tuturnya.
Sebelumnya, dalam acara yang diselenggarakan oleh America’s Credit Unions, Williams menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga tambahan akan dibenarkan jika inflasi terus melambat setelah dampak tarif perdagangan mereda.
"Jika inflasi mengikuti jalur yang saya harapkan, pengurangan lebih lanjut pada suku bunga federal funds pada akhirnya akan diperlukan untuk mencegah kebijakan moneter menjadi terlalu restriktif secara tidak sengaja," jelas Williams.
Williams memperkirakan tarif akan memberikan dampak tambahan pada indeks harga konsumen (IHK) selama paruh pertama tahun ini, sebelum tingkat inflasi turun ke 2,5% pada akhir 2026 dan mencapai target 2% pada 2027.
Di saat yang sama, Williams menyebut terdapat “tanda-tanda stabilisasi yang menjanjikan” di pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir. Tingkat pengangguran diperkirakan terus menurun tahun ini dan tahun depan, didukung pertumbuhan ekonomi yang “solid.” Ia memproyeksikan ekonomi akan tumbuh sekitar 2,5% tahun ini.
“Mengingat tidak adanya efek putaran kedua dan ekspektasi inflasi yang tetap terjaga, saya memperkirakan tarif sebagian besar hanya akan berdampak satu kali terhadap harga,” katanya, seraya menambahkan bahwa dampak puncak tarif akan berlalu “akhir tahun ini.”
Namun, karena dampak penuh tarif belum sepenuhnya dirasakan, kemajuan menuju target inflasi 2% The Fed “sementara tertahan.”
Semakin banyak pejabat The Fed yang melihat tanda-tanda stabilisasi pasar tenaga kerja setelah peningkatan perekrutan pada Januari dan penurunan tingkat pengangguran. Banyak pembuat kebijakan kini memilih menunggu bukti lebih lanjut bahwa inflasi benar-benar kembali ke target 2%. Meski demikian, sebagian pejabat lain khawatir lemahnya penciptaan lapangan kerja secara luas masih dapat menjadi alasan untuk kembali memangkas suku bunga.
Williams mengatakan pasar tenaga kerja masih berada dalam dinamika “perekrutan rendah, pemutusan hubungan kerja rendah” yang tidak biasa. Ia juga mencatat adanya persepsi yang lebih pesimistis dari survei rumah tangga, yang menjadi “sinyal kehati-hatian” bagi para pembuat kebijakan untuk terus memantau perkembangan.
Dalam acara terpisah, Gubernur Federal Reserve Kansas City Jeff Schmid menyebut data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja relatif seimbang, meski ia menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dengan tanda-tanda tekanan pada barang dan jasa yang terdampak tarif.
“Inflasi telah berada di atas target The Fed selama hampir lima tahun,” ujar Schmid dalam pidato yang disiapkan untuk acara di Denver. “Saya tidak melihat adanya ruang untuk berpuas diri.”
(bbn)





























