Logo Bloomberg Technoz

Adapun level rupiah NDF ini jadi yang terlemah yang pernah diperdagangkan di pasar offshore secara year-to-date (ytd) sejak awal tahun. Pada 20 Januari, rupiah NDF sempat menyentuh Rp16.993/US$, namun berhasil turun dalam sepekan kemudian pada 27 Januari ke Rp16.698/US$. 

Rupiah offshore kembali tertekan oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang tercatat 0,68% dan berada di level 99 lagi, setelah beberapa pekan berada di rentang 96 dan 97-an. 

Di tengah kondisi saat ini dengan tekanan global yang cukup kuat, rupiah kembali berada dalam bayang-bayang pelemahan. 

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali melaju di tren pelemahan zona merah. Dengan melemah menuju area Rp16.880/US$ tembus support potensial pertama sampai dengan Rp16.900/US$, dengan mencermati support selanjutnya pada Rp16.950/US$.

Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.950/US$ usai tertekan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga mencapai support terjauhnya mencapai Rp17.000/US$.

Eskalasi Timur Tengah

Eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang semakin meluas menciptakan peningkatan risiko gangguan pasokan energi, pasar global saat ini masuk ke mode risk-off: dolar AS menguat, imbal hasil obligasi melonjak, dan mata uang emerging markets tertekan.

Namun penguatan dolar AS ini tak membuat semua mata uang Asia kompak berada di zona merah. Pagi ini, di pasar spot penguatan terjadi pada won Korea Selatan, yen Jepang, yuan offshore China, dan ringgit Malaysia. Sebaliknya, baht Thailand melemah bersama dolar Singapura, dan dolar Hong Kong. 

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam akibat pecahnya perang di Timur Tengah membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap pasar emerging markets, termasuk Indonesia. Terlebih Indonesia juga merupakan salah satu importir minyak dan berpotensi mengalami imported inflation atau kenaikan biaya impor akibat beban impor naik. 

Imported inflation ini berisiko merembet ke berbagai sektor: mulai dari transportasi, logistik, hingga harga pangan. Dalam konteks ini, tekanan rupiah bisa menjadi lingkaran umpan balik yang dapat memperburuk keadaan, pelemahan kurs meningkatkan biaya impor, sementara kenaikan biaya impor akan semakin memperbesar tekanan inflasi.

Hal ini membuat ruang kebijakan moneter akan kembali dilematis. Di satu sisi, stabilitas nilai tukar perlu dijaga untuk meredam imported inflation dan menjaga kepercayaan pasar. Di sisi lain, ruang pelonggaran moneter menjadi semakin sempit jika tekanan eksternal berlanjut dan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

(ell)

No more pages