Logo Bloomberg Technoz

“Jadi masih bisa di absorb kalau harga minyak naik, kalau terlalu tinggi. Tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang.” pungkasnya.

Sebelumnya, Purbaya mengungkapkan pemerintah masih bisa mengendalikan APBN meskipun harga minyak dunia mencapai level US$92/barel. 

“Harga minyak sudah ke US$80/barel, saya hitung sampai US$92/barel pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” kata Purbaya.

Ia menuturkan indikator yang dapat memengaruhi perekonomian RI yakni ekspor maupun harga minyak. Namun demikian, harga minyak dunia saat ini masih dapat disesuaikan dengan anggaran pemerintah. 

Dia menjelaskan jika eskalasi terus memanas dan harga impor minyak meningkat maka akan menekan defisit. Akan tetapi, dia akan terus mengoptimalkan pengumpulan pajak hingga penerimaan cukai tidak akan bocor. 

“Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit. Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan,” tuturnya. 

Dia menambahkan, sekalipun tekanan global meningkat, perekonomian nasional tetap dapat bertahan selama permintaan domestik berkontribusi sekitar 90% terhadap ekonomi masih tetap terjaga.

Adapun, pada Senin (2/3/2026), harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 8,07% ke level sekitar US$72,43/barel. Sementara minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi di Singap

(ell)

No more pages