Logo Bloomberg Technoz

Dalam dokumen lelang yang dirilis, instrumen jangka pendek seperti seri SPN tampaknya kurang bergairah dengan bid-to-cover ratio hanya 1 kali hingga 1,16 kali. Bahkan di seri SPN12260604 bertenor 3 bulan, tidak ada nominal yang dimenangkan sama sekali. 

Sebaliknya, FR0109 yang jatuh tempo pada tahun 2031 justru mencatatkan bid-to-cover ratio 7,99 kali, dengan penawaran yang masuk Rp10,78 triliun sementara jumlah yang dimenangkan hanya Rp1,35 triliun. Seri ini menawarkan imbal hasil 5,87%. 

Sedangkan untuk seri FR0108 yang jatuh tempo pada tahun 2036 dan justru menawarkan imbal hasil lebih tinggi 6,5% hanya mencapai bid-to-cover ratio 1,3 kali. 

Sebagai catatan, bid-to-cover ratio adalah rasio antara total penawaran yang masuk dibandingkan dengan jumlah yang dimenangkan pemerintah. Semakin tinggi angkanya, maka semakin besar kelebihan permintaan alias oversubscription, dan mengindikasikan minat investor yang kuat. 

Dalam fase risk-off seperti sekarang ini, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS maupun US Treasury.

Walaupun lelang ini didominasi investor domestik, pelaku pasar dalam negeri tetap membaca situasi global. Perbankan besar, LPS, maupun manajer investasi tentu mempertimbangkan risiko nilai tukar, inflasi impor akibat kenaikan harga energi, serta potensi gejolak pasar sekunder.

Dengan kata lain, permintaan yang tidak terlalu kuat mengindikasikan dua hal. Pertama, investor sedang mengurangi risiko. Kedua, mereka menunggu kepastian arah global sebelum menambah eksposur.

Fakta bahwa permintaan domestik pun tidak agresif mempertegas indikasi bahwa investor masih mengambil posisi defensif di tengah ketidakpastian eksternal. 

Lebih rendahnya minat dalam lelang ini juga agaknya sebagai respons investor terhadap kondisi domestik yang masih terbebani risiko fiskal dan pelebaran defisit akibat perang saat ini yang membuat harga minyak mentah melambung. Belum lagi tahun ini utang jatuh tempo RI telah mencapai lebih dari Rp800 triliun. 

Hingga pemerintah juga memutuskan hanya memenangkan Rp34,1 triliun. Meski angka ini masih di atas target indikatif Rp33 triliun, namun nilainya lebih rendah 14,75% daripada nilai yang dimenangkan dalam lelang SUN sebelumnya Rp40 triliun. 

(dsp/aji)

No more pages