Melemahnya sejumlah Bursa Saham Asia dan IHSG tersulut konflik Timur Tengah yang terus memanas, mengancam dan memicu putaran serangan baru.
Terbaru, Iran membalas serangan Israel dengan dua serangan unit drone yang menghantam kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh. Insiden ini terjadi seiring langkah Iran yang terus mengintensifkan serangan ke Kerajaan Arab tersebut sebagai bentuk balasan terhadap AS dan Israel.
Iran tampak terus meningkatkan frekuensi serangannya terhadap negara tersebut, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Kemarin, raksasa minyak negara Saudi Aramco terpaksa menutup kilang minyak terbesar di negara itu akibat serangan drone di zonasi tersebut.
Perang dengan Iran diprediksi akan memicu kenaikan inflasi di seluruh dunia. Hal ini terungkap dalam survei global terhadap para ekonom yang dilangsungkan oleh Bloomberg.
Ancaman inflasi terbesar dari perang ini bersumber dari lonjakan harga minyak dan gas. Hal ini menyusul lumpuhnya aktivitas di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilintasi oleh seperlima pasokan energi laut dunia. Selain itu, terdapat dampak berantai seperti kenaikan harga tiket penerbangan dan biaya distribusi, serta risiko rantai pasok yang lebih luas jika konflik terus berkepanjangan.
Sentimen terbaru dari Asia, Pemerintah China menyerukan kepada ‘semua pihak’ yang terlibat dalam perang di Iran untuk menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan titik nadi maritim global yang kini berada dalam kondisi kritis.
“China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi ketegangan, dan menjaga keselamatan navigasi di Selat Hormuz,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam taklimat media rutin di Beijing pada Selasa (3/3/2026).
Lalu lintas kapal tanker di jalur penting tersebut praktis terhenti total sejak AS dan Israel meluncurkan kampanye pengeboman Sabtu–Minggu lalu, yang kemudian memicu balasan serangan rudal dari Iran ke berbagai target.
Kegelisahan hari ini tertuju pada Qatar, yang menyumbang seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global. Pasca–serangan drone Iran pada Senin, Qatar menghentikan produksi di Ras Laffan, fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia. Ini merupakan penghentian total pertama dalam hampir tiga dekade operasional fasilitas tersebut.
(fad)



























