Meski belum secara resmi menutup akses ke titik strategis tersebut setelah serangan AS dan Israel dimulai pada Sabtu, Iran telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melanjutkan perjalanan. Setidaknya tiga kapal telah diserang hingga Senin pagi. Lebih dari setengah klub asuransi maritim terbesar di dunia juga membatalkan asuransi risiko perang untuk kapal-kapal yang memasuki Teluk.
Akibatnya, selat yang menghubungkan produsen minyak terbesar di dunia dengan pembeli mereka secara efektif tidak dapat diakses.
Dalam 24 jam terakhir, hanya segelintir kapal tanker besar yang tampaknya keluar dari perairan tersebut. Hanya dua kapal tanker Iran yang dikenai sanksi AS yang tampaknya hampir memasuki selat, menurut data pelacakan kapal.
Data dari platform pelacakan kapal Vortexa menunjukkan hanya empat kapal tanker besar yang melintas pada 1 Maret, turun dari 22 kapal sehari sebelumnya.
Jumlah sebenarnya kapal yang terjebak di Teluk Persia bisa lebih tinggi jika kapal tanker kecil dihitung. Banyak kapal memilih mematikan sinyal transponder mereka untuk "bersembunyi" dan mengurangi risiko, sementara gangguan sinyal mempersulit upaya pelacakan.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC), kelompok penasihat angkatan laut multinasional yang fokus pada kawasan tersebut, telah menaikkan tingkat peringatan keamanannya menjadi "kritis", tingkat tertinggi, dengan alasan "serangan rudal dan drone dikonfirmasi terhadap beberapa kapal komersial di Teluk Oman, perairan sekitar Musandam, dan perairan pesisir UEA." Satu kapal tanker berbendera AS, Stena Imperative, terkena proyektil.
Sebagai tanda betapa tidak pastinya situasi saat ini, JMIC mengatakan sebuah kapal tanker yang sebelumnya dilaporkan sebagai korban, Sea La Donna, tidak lagi dianggap terdampak.
Pendaftaran bendera—otoritas yang memastikan kapal mematuhi hukum internasional—juga telah membunyikan alarm. Pendaftaran bendera Liberia dan Kepulauan Marshall, yang masing-masing merupakan registrasi terbesar kedua dan ketiga di dunia, memerintahkan kapal-kapal untuk mematuhi tingkat keamanan tertinggi, berarti operasi kargo harus ditangguhkan.
Penurunan lalu lintas sudah mengguncang negara-negara importir, tetapi hal ini juga dapat mengancam produsen. Karena penyimpanan terbatas dan sedikit kapal kosong yang tersedia di Teluk, produsen dapat melihat tangki-tangki terisi penuh jika krisis berlanjut selama berminggu-minggu—dan terpaksa menangguhkan produksi.
Analis JPMorgan & Chase memperkirakan penutupan efektif yang berlangsung lebih dari 25 hari dapat memaksa penghentian produksi.
Hormuz juga merupakan rute transit vital bagi LNG. Qatar adalah eksportir LNG terbesar kedua di dunia, menyumbang 20% pasokan tahun lalu, dan pengiriman negara tersebut harus melewati Selat Hormuz untuk mencapai pembeli di Asia dan Eropa.
Beberapa kapal kontainer juga telah menghentikan perjalanan atau berbalik arah saat melintasi Selat Hormuz.
Kekhawatiran juga meluas ke Laut Merah, di mana Houthi yang berbasis di Yaman telah menargetkan kapal komersial dengan proyektil. Beberapa operator kapal kontainer terbesar di dunia mengalihkan rute kapal untuk menghindari Laut Merah, setelah Houthi yang didukung Teheran mengancam akan memulai kembali serangan terhadap kapal kargo di wilayah tersebut.
(bbn)



























