Logo Bloomberg Technoz

Eskalasi Perang AS-Iran Berpotensi Tahan Penurunan Bunga The Fed

Pramesti Regita Cindy
03 March 2026 12:10

Friderica Widyasari Dewi (Dok. via Instagram @fridericawidyasari)
Friderica Widyasari Dewi (Dok. via Instagram @fridericawidyasari)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi mengganggu rencana penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve AS atau The Fed.

Sebab menurut Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, kenaikan harga minyak akibat konflik akan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini berpotensi membuat The Fed menahan suku bunga di level tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

"Tentunya ini akan mempengaruhi harga minyak global. Terlebih kalau tadi misalnya Selat Hormuz itu ditutup secara berkepanjangan, maka ini akan sangat berpengaruh kepada global termasuk Indonesia. Karena Selat Hormuz ini dilalui oleh 30% perdagangan minyak dan juga LNG-nya itu 20% lewat di situ," kata Kiki (panggilan akrab Friderica) dalam Market Outlook 2026, di BEI Jakarta, Selasa (3/3/2026).

The Fed dan Suku Bunga Acuan AS (Diolah)

"Kenaikan harga minyak tentu akan menaikkan inflasi secara global, yang kemudian tentu akan direspons oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Fed untuk menahan suku bunga higher for longer. Kita melihat ini sebagai satu konsideran yang utama dalam menetapkan suku bunga," sambungnya.

Sehingga, dengan kebijakan suku bunga tinggi di AS, hal ini dapat berpotensi memperketat likuiditas global dan meningkatkan persaingan mendapatkan dana internasional. Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga mendorong fenomena flight to quality, yakni perpindahan dana ke instrumen safe haven seperti dolar AS dan obligasi negara maju.