Logo Bloomberg Technoz

Target ICP Diprediksi Meleset

Lebih lanjut, Wahyu memproyeksikan target asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bakal meleset.

Alasannya, harga ICP biasanya akan bergerak beriringan dengan harga minyak mentah dunia seperti Brent dengan memperhitungkan diskon atau premi tertentu.

Wahyu meramal jika harga minyak mentah Brent menyentuh US$100 per barel, maka ICP bakal bergerak di kisaran US$95—US$98 per barel.

“Jika konflik meluas menjadi perang regional terbuka, asumsi US$70 per barel itu bisa jadi tinggal kenangan dalam waktu singkat,” tegas dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede meramal harga minyak mentah dunia bisa melampaui US$100 per barel gegara penutupan Selat Hormuz. Dengan begitu, asumsi harga ICP dalam APBN 2026 juga diprediksi meleset.

Josua menjelaskan pada dasarnya ICP akan turut terkerek naik apabila harga minyak mentah dunia melonjak, sebab ICP merupakan harga minyak acuan Indonesia yang mengikuti harga minyak dunia dan disesuaikan oleh selisih mutu dan biaya pengadaan.

Dia menyebut kenaikan harga minyak dunia tersebut dapat terjadi karena Selat Hormuz merupakan titik perdagangan energi dunia dan pasar cenderung langsung memberikan tambahan harga ketika risiko gangguan pasok terjadi, bahkan sebelum terjadi pemotongan produksi.

Josua mencatat pengiriman minyak dan gas di Selat Hormuz banyak dilaporkan tertahan, sehingga secara praktik sudah mendekati penutupan. Hal ini juga dipandang menjadi alasan harga minyak belakangan mengalami kenaikkan.

“Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup, harga minyak dapat melonjak hingga melampaui US$100 per barel, sementara sekitar seperlima aliran minyak global melewati jalur tersebut. Dengan kerangka ini, asumsi harga minyak di kisaran rendah US$ 70 per barel menjadi sangat rentan meleset bila penutupan berlangsung lebih dari sekadar gangguan harian,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (3/3/2026).

Pergerakan harga minyak mentah Brent./dok. Bloomberg

Risiko Komoditas Lain

Selain menyulut kenaikan harga minyak mentah dunia, Josua menilai penutupan Selat Hormuz jika menaikkan harga komoditas energi lainnya. 

Alasannya, komoditas energi tersebut harus diangkut melalui rute lain dan premi asuransi biasanya mengalami lonjakan.

“Sehingga biaya impor energi dapat naik walaupun harga minyak tidak bergerak setinggi skenario terburuk. Jadi, potensi melesetnya asumsi APBN bukan hanya soal level harga, tetapi juga gabungan harga, biaya angkut, dan nilai tukar yang biasanya ikut tertekan saat ketidakpastian meningkat,” ujarnya.

Mengutip Buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2026, target lifting minyak tahun depan ditetapkan di level 610.000 barel per hari (bph), sedangkan outlook realisasi pada 2025 diproyeksikan berada di rentang 593.000—597.000 bph.

Sementara itu, target lifting gas dalam RAPBN 2026 ditetapkan sebesar 984.000 bsmph, dengan outlook realisasi 2025 di kisaran 976.000—980.000 bsmph.

Adapun, harga minyak mentah atau Indonesian Crude Price (ICP) ditarget di level US$70/barel, dibandingkan dengan outlook 2025 di rentang US$68 sampai US$82 per barel.

Sekadar catatan, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengungkapkan pemerintah masih memantau secara cermat mengenai eskalasi yang terjadi di Timur Tengah dan potensi dampaknya bagi pasokan maupun distribusi energi di Tanah Air.

"Kita harus lihat dalam beberapa pekan ke depan ya, terutama sepekan ke depan ini bagaimana eskalasinya di sana. Kalau ini bisa selesai cepat, harusnya dampak ke sektor energi mungkin akan limited," kata dia dalam diskusi mengenai RKAB, Senin (2/3/2026).

Dia mengakui rerata harga minyak mentah dunia saat ini sudah melonjak menjadi US$78 per barel. Jika perang antara AS-Israel melawan Iran bisa selesai secepat mungkin, harga minyak mentah global diperkirakan tidak akan meningkat lagi.

Berkaca dari konflik geopolitik sebelumnya, seperti Rusia dan Ukraina maupun serangan Israel ke Iran, harga minyak mentah memang sempat naik. Namun, tidak butuh waktu lama untuk kembali turun karena konflik berangsur mereda.

Untuk itu, saat ini DEN belum bisa berbicara banyak mengenai peluang kenaikan harga BBM di Indonesia mengingat ketidakpastian yang masih tinggi di Timur Tengah.

(azr/wdh)

No more pages