Logo Bloomberg Technoz

“[Sebanyak] 3 smelter sudah kami konfirmasi [kolaps]. Huadi shutdown total, Wanxiang tinggal 2 line, Gunbuster shutdown 5 line dari 20 line,” kata Meidy saat ditemui di sela diskusi RKAB, dikutip Selasa (3/3/2026). 

PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (Dok. IG @huadiindonesia)

Atur Produksi

Dalam kaitan itu, Meidy mengingatkan agar sejumlah smelter yang tersisa di Indonesia tidak jorjoran dalam produksi lantaran Kementerian Perindustrian telah menerbitkan aturan izin usaha industri (IUI) yang melarang smelter nikel standalone baru memproduksi produk antara nikel.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 14/2015 memang terdapat aturan bahwa pada 2025—2035, hilirisasi nikel di Indonesia tidak lagi diolah hingga kelas dua yakni nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate (MHP); melainkan pada produk yang lebih hilir seperti nickel electrolytic, nickel sulphate, dan nickel chloride.

“Jangan terlalu jorjoran, karena dari Kementerian Perindustrian ada rilis tidak boleh melihat smelter intermediate [yang memproduksi] NPI, MHP, nickel matte, kalau bisa ke produk akhir,” tutur dia.

Penjelasan DEN

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menambahkan sejatinya sejumlah smelter di Indonesia tutup sebelum ada aturan pemangkasan RKAB. Dia menegaskan, jika RKAB tahun ini tidak dipangkas, maka akan lebih banyak smelter yang menjadi korban.

“Jadi kalau ini [pemangkasan RKAB] tidak dilakukan, mungkin akan bertambah lagi korbannya. Kami kan tentunya enggak bisa melihat apakah ini satu integrated, kami melihatnya kan keseluruhan dari industri,” tambah Seto.

“Dari sisi pemerintah kalau ini tidak dilakukan, ya tadi kita mau nickel market-nya surplus dan biggest dalam sejarah nikel dunia, harganya pasti akan jatuh juga. Kita ingat [harga] NPI-nya sempat di bawah US$11.000/ton. Ya tumbang juga seperti Gunbuster, Huadi segala macam gitu ya.”

Konstruksi proyek nikel PT Gunbuster Nickel Industry (dok. GNI)

Industri smelter nikel, khususnya yang berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) atau pirometalurgi, di Indonesia selama ini sudah cukup tertekan karena dihadapkan pada isu kelebihan produksi sejak 2022. Oversupply tersebut diestimasikan terus berlanjut hingga 2029, bahkan 2030.

Beberapa pemain besar di sektor ini bahkan telah melakukan penyetopan lini produksi sementara sejak awal 2025 akibat margin yang makin menipis, bahkan mendekati nol, saat permintaan baja nirkarat China turun dan biaya produksi makin meningkat.

Sekadar catatan, sejak awal 2025, Gunbuster memang dikabarkan telah menyetop mayoritas dari lebih dari 20 lini produksinya. Berbagai narasumber menyebut Gunbuster telah menunda pembayaran pada pemasok sehingga tidak dapat memperoleh bijih nikel untuk diolah smelter-nya. 

Selain akibat tekanan harga nikel yang terus turun, bisnis Gunbuster dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usahanya di China, Jiangsu Delong, akibat gagal bayar utang.

Sementara itu, Huadi pada Juli 2025 dilaporkan telah menyetop seluruh kegiatan operasional smelter nikelnya sejak 15 Juli 2025. Di sisi lain, Huadi juga dilaporkan telah mem-PHK massal pekerja lebih dari 1.200 orang. 

Tak hanya itu, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) serta PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) juga dilaporkan telah melakukan penyetopan sementara atau shutdown sebagian lini produksinya pada tahun lalu.

(mfd/wdh)

No more pages