“Dari US Dolar. Sekarang ini kita melakukan diversifikasi market. Minggu lalu kami menerbitkan global bonds sejumlah US$4,5 miliar. Tapi dalam mata uang euro dan renminbi,” tambah Juda.Langkah tersebut dinilai membantu meredam tekanan apabila terjadi capital outflow seiring memburuknya sentimen terhadap aset negara berkembang.
Meski demikian, Juda mengakui skenario ekstrem seperti lonjakan harga minyak hingga di atas US$100–US$150 per barel akan memberikan tekanan besar, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga seluruh negara.
Namun dalam proyeksi yang lebih moderat, yakni harga minyak di kisaran US$70–US$75 per barel, posisi tersebut masih berada dalam rentang asumsi dasar APBN sehingga risikonya dinilai tetap terkendali.
Sementara, apabila dikaitkan dengan risiko pelemahan rupiah dan peningkatan harga minyak, Juda menyatakan pemerintah secara berkala melakukan stress test terhadap APBN. Analisis sensitivitas terhadap sejumlah indikator makro juga telah dimuat dalam nota keuangan.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan US$1 pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi memperlebar defisit sekitar Rp6,8 triliun. Adapun depresiasi rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar, sementara kenaikan imbal hasil sebesar 0,1 persen berimplikasi pada tambahan beban bunga sekitar Rp1,9 triliun.
"Pada skenario yang sangat plausible, yang cukup plausible, itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3%.” sebutnya
(ell)






























