Bahkan saat ditanya kemungkinan mengambil pasokan dari Rusia, Airlangga menyatakan, "Ya tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor."
Untuk diketahui, pada Senin (2/3/2026), harga WTI melonjak hingga 8,07% ke level sekitar US$72,43/barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi di Singapura.
Sebagai gambaran, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa gangguan pasokan minyak mentah global akibat konflik Rusia-Ukraina sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia pada Maret 2022.
Pada Februari 2022, harga minyak sudah berada di level tinggi, terlebih setelah Rusia melancarkan serangan pertama ke Ukraina pada 24 Februari. Saat itu, harga minyak Brent tercatat sebesar US$92,89 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$90,94 per barel.
Kenaikan tersebut berlanjut pada bulan berikutnya. Minyak Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2022 melonjak US$4,77 atau 3,9% menjadi US$127,98 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$133,09. Sementara itu, WTI naik US$4,30 atau 3,6% ke posisi US$123,70 per barel, usai mencatatkan harga tertinggi sesi di US$129,40 per barel.
Sementara dalam perkembangan terbaru, presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengumumkan kematian Khamenei, pemimpin tertinggi Iran kedua sejak Republik Islam berdiri pada 1979, dan kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran. Trump menyebut Khamenei sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah" dan kembali menyerukan agar rakyat Iran bangkit dan menggulingkan rezim.
“Kita tidak dapat membiarkan sebuah negara yang membentuk pasukan teroris memiliki senjata seperti itu yang memungkinkan mereka untuk memaksa dunia menuruti keinginan jahat mereka,” katanya tentang ambisi nuklir Iran.
“Operasi tempur terus berlanjut saat ini dengan kekuatan penuh dan akan terus berlanjut hingga semua tujuan kita tercapai.”
(lav)



























