Hubungan ini dinilai sebagai praktik yang lazim dilakukan perusahaan teknologi di Indonesia maupun di seluruh dunia. GoTo juga membayar layanan yang disediakan Google tersebut menggunakan dana Perseroan dan semua transaksi dicatat sesuai dengan standar akuntansi keuangan Indonesia.
Sementara itu, terkait investasi, Google pertama kali berinvestasi ke Gojek pada 2017. Namun, investasi tersebut dilakukan bersama sejumlah investor global terkemuka lainnya. Berdasarkan catatan redaksi, beberapa investor yang saat itu masuk ke Gojek di antaranya Tencent, KKR, GIC, Mitsubishi dan beberapa lainnya.
Pihak GoTo juga menegaskan bahwa Google tidak pernah menjadi pemegang saham pengendali, melainkan investor strategis minoritas. Partisipasi Google juga berlanjut dalam beberapa putaran pendanaan berikutnya.
Seperti halnya dengan semua investor lain, pihak GoTo menegaskan partisipasi Google dalam setiap putaran pendanaan dilakukan secara profesional dan transparan, tanpa perlakuan khusus serta sepenuhnya mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.
Dalam pernyataan resminya, GoTo juga menjelaskan bahwa dana investasi yang diperoleh dari para investor digunakan semata-mata untuk pertumbuhan bisnis dan kebutuhan operasional.
“Google juga terus berpartisipasi dalam beberapa putaran pendanaan berikutnya bersama banyak investor global lainnya. Sebagian besar investasi Google, dilakukan sebelum tahun 2019 saat Nadiem [Nadiem Makarim] belum ditunjuk sebagai menteri,” tulis manajemen Goto.
Dari berbagai putaran pendanaan yang diikuti oleh Google, pihak GoTo juga menegaskan bahwa mereka tidak pernah membeli sahamnya kembali (buyback) dari Google. Namun GoTo melakukan pembelian saham perusahaan lain dari Google.
Momentum penting terjadi pada Mei 2021 ketika Gojek dan Tokopedia resmi merger membentuk entitas GoTo. Dalam proses tersebut, GoTo membeli saham Tokopedia dari para pemegang saham sebelumnya, termasuk Google. Langkah ini menjadi bagian dari konsolidasi perusahaan.
Selanjutnya pada Oktober 2021, menjelang IPO, dilakukan restrukturisasi internal yang melibatkan pembelian saham entitas fintech GoTo yaitu PT Dompet Karya Anak Bangsa (DKAB) dari sejumlah investor, termasuk Google. Restrukturisasi ini dilakukan untuk menyederhanakan struktur grup sebelum melantai di Bursa Efek Indonesia.
Manajemen GoTo menegaskan bahwa seluruh transaksi investasi dilakukan secara profesional, transparan, serta sesuai ketentuan hukum dan tata kelola perusahaan yang berlaku.
(tim)






























