Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, hal itu akan sangat dipengaruhi oleh pengelolaan yang dilakukan Pertamina di lapangan minyaknya.

“Kalau program peningkatan lifting memang betul, dengan difasilitasi services company akan jadi bagus. Namun, kalau programnya sendiri memang terbatas skala dan kualitasnya, ya akan seperti itu juga hasilnya,” tegas Pri Agung.

Pertumbuhan Melambat

Dihubungi terpisah, praktisi industri migas Hadi Ismoyo membenarkan melambatnya pertumbuhan ladang minyak serpih di benua Amerika menjadi salah satu alasan perusahaan pengeboran hidrolik AS getol mencari pasar ke luar negeri.

Presiden Direktur PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) tersebut menyatakan kebiasaan perusahaan jasa pengeboran minyak tersebut memang akan selalu mencari peluang dimanapun proyek itu berada.

“Benar [dipengaruhi melambatnya pertumbuhan shale di AS], tetapi hanya salah satu alasan saja. Shale oil project di AS sudah berkembang sangat pesat. Ekosistem shale oil project di AS demikian masif sehingga menyumbang sekitar 50% dari produksi minyak nasional AS,” kata Hadi.

Untuk diketahui, perusahaan-perusahaan pengeboran hidrolik atau fracking AS dilaporkan makin banyak mengirimkan peralatan mereka yang menganggur ke luar negeri, dan mencari pasar baru di luar negeri seiring melambatnya pertumbuhan di ladang minyak serpih di Texas, New Mexico, dan tempat lain.

Pipa minyak di anjungan pengeboran di daerah Loma Campana./Bloomberg

Selama dua tahun terakhir, ratusan pompa seukuran truk 18 roda telah dikirim ke Argentina oleh penyedia termasuk Halliburton Co. dan Calfrac Well Services Ltd., dan ke Australia oleh Liberty Energy Inc. dan Halliburton, menurut perkiraan dari perusahaan analitik Primary Vision.

Pengiriman tersebut juga mencakup menara pasir, tangki air, blender industri, dan selang sepanjang bermil-mil yang digunakan untuk menyuntikkan cairan dan pasir ke lapisan batuan lebih dari satu mil di bawah tanah.

Investasi dalam pompa dan peralatan fracturing baru juga telah dilakukan oleh perusahaan seperti Tenaris SA untuk mendukung wilayah Vaca Muerta di Argentina yang sedang berkembang.

Semua peralatan ini berjumlah hampir seperlima dari daya fracking yang digunakan di Cekungan Permian hingga tahun lalu, dan lebih banyak lagi yang mungkin akan menyusul.

Halliburton, penyedia jasa fracking terbesar di dunia, mengatakan pihaknya melihat insentif untuk memindahkan peralatan ke luar negeri seiring dengan ekspansi bisnis internasionalnya.

Pengiriman armada bertenaga diesel yang kurang dimanfaatkan ke luar negeri dapat membantu perusahaan jasa ladang minyak pulih setelah bertahun-tahun mengalami penurunan keuntungan dan tekanan dari pelanggan untuk menurunkan biaya.

Namun, ada sisi negatifnya bagi produsen minyak dan gas yang menyewa Halliburton dan perusahaan lain untuk melakukan fracking pada sumur mereka: berkurangnya peralatan di AS cenderung meningkatkan biaya jika dan ketika perusahaan mulai meningkatkan produksi kembali.

Spread pengeboran minyak AS makin turun./dok. Bloomberg

Operator swasta mungkin akan merasakan dampaknya lebih dahulu. Perusahaan-perusahaan ini cenderung meningkatkan pengeboran dan fracking ketika harga minyak dan gas naik. Jika peralatan menjadi lebih sulit didapatkan, proyek-proyek dapat terhenti, kata CEO Primary Vision, Matt Johnson.

Sekadar catatan, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan memorandum of understanding (MoU) yang diteken perseroan dengan Halliburton Co., melingkupi kerja sama bidang optimasi sumur minyak atau enhanced oil recovery (EOR).

Selain itu, lanjut Simon, MoU tersebut juga memuat kesepakatan dilakukannya transfer teknologi dan pengetahuan dari Halliburton kepada Pertamina.

“Pertamina juga menandatangani MoU dengan Halliburton yang diwakili oleh CEO Halliburton Indonesia, Bapak Ankus beserta saya dari Pertamina, antara lain untuk Oil Field Recovery,” kata Simon dalam konferensi pers, dikutip Sabtu (21/2/2026).

Simon berharap kerja sama yang dilakukan dengan Halliburton dapat meningkatkan produksi minyak mentah atau crude perseroan, utamanya pada sumur minyak yang mengalami penurunan produksi alamiah atau natural decline.

(azr/wdh)

No more pages