“Kami harap pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan kementerian lainnya dapat mengayomi pelaku industri untuk bersama-sama mencari solusi menghadapi dampak dari keputusan ini, sebelum perkiraan diterapkan tarifnya pada Juli mendatang,” tegas dia.
Sekadar informasi, AS menetapkan bea masuk antisubsidi terhadap panel surya asal Indonesia dengan tarif sebesar 86% hingga 143,3%, lantaran RI dituding memberikan subsidi secara tidak adil.
Administrasi Perdagangan Internasional (ITA) Departemen Perdagangan AS mengumumkan tarif CVD dikenakan terhadap PT Blue Sky Solar Indonesia sebesar 143,3%, PT REC Solar Energy Indonesia sebesar 86%, dan terhadap eksportir atau produsen panel surya Indonesia lainnya sebesar 104,38%.
Adapun, bea masuk antisubsidi yang dikenakan terhadap Indonesia diumumkan bersamaan dengan pengenaan CVD serupa terhadap India dan Laos.
“Departemen Perdagangan AS mengumumkan keputusan awal yang menguntungkan dalam penyelidikan bea antisubsidi terhadap sel fotovoltaik silikon kristal, baik yang dirakit menjadi modul maupun tidak [sel surya], dari India, Indonesia, dan Laos,” sebagaimana tertulis dalam situs Administrasi Perdagangan Internasional AS, dikutip Kamis (26/2/2/2026).
Keputusan akhir penyelidikan bea masuk antisubsidi tersebut direncanakan diterbitkan pada 6 Juli 2026.
Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS juga sedang melakukan penyelidikan bea masuk antidumping (BMAD) secara bersamaan terhadap panel surya dari India, Indonesia, dan Laos.
Lebih lanjut, Departemen Perdagangan AS mengungkapkan penyelidikan dilakukan atas permohonan yang diajukan oleh Asosiasi Produsen Panel Surya AS yang anggotanya turut meliputi Hanwha Q CELLS USA Inc., First Solar Inc., serta Mission Solar Energy LLC.
Sekadar tambahan, perusahaan India dikenakan tarif bea masuk antisubsidi sebesar 125,87%. Sementara itu, Laos diganjar sebesar 80,67%.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, berikut besaran impor panel surya yang dilakukan AS dari Indonesia:
2022:
- Volume: 499,11 juta watt
- Nilai: US$177,53 juta
2023:
- Volume: 521,85 juta watt
- Nilai: US$ 171,94 juta
2024:
- Volume: 1,80 miliar watt
- Nilai: US$ 415,20 juta
(azr/wdh)






























