BRI Bukukan Laba Rp57,132 Triliun, Perkuat Ekonomi Kerakyatan

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk menutup tahun 2025 dengan capaian kinerja yang solid di tengah dinamika ekonomi global yang melambat. Bank pelat merah ini membukukan laba bersih sebesar Rp57,132 triliun hingga akhir Triwulan IV 2025.
Kinerja tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang kuat, pertumbuhan kredit dua digit, serta kualitas aset yang terus membaik. Capaian ini sekaligus mempertegas posisi BRI sebagai motor penggerak pembiayaan produktif dan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi domestik menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perseroan. Ia menilai konsumsi dalam negeri yang tetap terjaga turut menopang ekspansi sektor perbankan.
“Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan ketahanan konsumsi domestik memberikan fondasi yang cukup kuat bagi ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Hery.
Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,1 persen dan diproyeksikan meningkat pada 2026. Inflasi juga terkendali di kisaran 2,9 persen, memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Di sisi intermediasi, kredit BRI tumbuh 12,3 persen secara tahunan menjadi Rp1.521 triliun. Angka ini melampaui rata rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang tercatat 9,6 persen.
Pertumbuhan kredit tersebut tetap dijaga secara prudent. Rasio kredit bermasalah atau NPL berada di level 3,07 persen, sementara Loan at Risk turun dari 10,7 persen menjadi 9,6 persen pada akhir 2025.
“Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. Hingga akhir Triwulan IV 2025 BRI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp57,132 triliun,” tegas Hery.
Transformasi dan Penguatan Dana Murah
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga BRI tumbuh 7,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.466,8 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh dana murah atau CASA yang meningkat 12,7 persen.
Rasio CASA tercatat mencapai 70,6 persen, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Giro tumbuh 19,7 persen dan tabungan meningkat 7,9 persen secara tahunan.
Penguatan dana murah berdampak pada efisiensi biaya dana. Cost of Fund BRI membaik menjadi 2,9 persen dari sebelumnya 3,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Likuiditas bank tetap terjaga dengan rasio Loan to Deposit Ratio sebesar 91,4 persen. Sementara rasio kecukupan modal atau CAR berada di level 23,52 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator.
Transformasi BRIVolution Reignite yang diluncurkan pada April 2025 menjadi salah satu strategi utama memperkuat daya saing. Transformasi ini bertumpu pada dua pilar besar, yakni penguatan pendanaan dan pembaruan bisnis inti.
Pada pilar Transform the Funding Franchise, BRI mengoptimalkan kanal digital seperti BRImo, BRILink, dan QRIS untuk meningkatkan akuisisi dan retensi nasabah. Strategi ini sekaligus memperkuat posisi BRI sebagai transaction bank utama.
Hingga Desember 2025, pengguna Super App BRImo mencapai 45,9 juta atau tumbuh 18,9 persen secara tahunan. Nilai transaksi melalui BRImo menembus Rp7.057 triliun, meningkat 26,1 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di segmen merchant, volume transaksi meningkat 48,1 persen menjadi Rp223,2 triliun. Sementara volume QRIS melonjak 100 persen secara tahunan menjadi Rp85,6 triliun.
Komitmen BRI terhadap UMKM tetap menjadi prioritas utama. Sepanjang 2025, BRI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat sebesar Rp178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur, dengan sektor pertanian sebagai kontributor terbesar.
Sinergi Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM juga menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga akhir 2025, holding ini menjangkau lebih dari 34,5 juta debitur aktif.
“Hingga akhir Desember 2025, Holding UMi telah menjangkau lebih dari 34,5 juta debitur aktif, dengan total simpanan mikro mencapai lebih dari 187 juta rekening. Selain itu, layanan bullion dan aplikasi digital Tring dari Pegadaian juga turut memperkuat posisi BRI Group dalam ekosistem emas nasional. Hingga akhir Desember 2025 total simpanan emas dalam ekosistem ultra mikro BRI Group mencapai 17,1 ton atau tumbuh 65,5% YoY,” ucap Akhmad.
Selain pembiayaan, BRI aktif mendorong pemberdayaan melalui program Desa BRILiaN yang telah membina lebih dari 5 ribu desa. Program KlasterkuHidupku juga telah mengembangkan 42 ribu klaster usaha di berbagai daerah.
BRI turut memperluas inklusi keuangan lewat lebih dari 1,1 juta agen BRILink yang tersebar di lebih dari 66 ribu desa. Volume transaksi melalui agen mencapai Rp1.746 triliun sepanjang 2025.
Dalam aspek keberlanjutan, portofolio Pembiayaan Kegiatan Usaha Berwawasan Sosial mencapai Rp718,7 triliun atau 53,5 persen dari total pinjaman. Sementara pembiayaan berwawasan lingkungan mencapai Rp93,2 triliun.
Menutup pemaparannya, Hery menegaskan komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama masyarakat dan mendukung program prioritas pemerintah.
“BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan setiap pertumbuhan memberikan dampak nyata bagi rakyat. Dengan fondasi yang kuat dan transformasi yang konsisten, kami optimistis dapat terus tumbuh bersama rakyat untuk Indonesia,” tutup Hery Gunardi.































