Dari sisi fiskal, ruang ekspansi APBN juga semakin terbatas. Realisasi keseimbangan primer yang kembali mencatatkan defisit di awal tahun menjadi sinyal bahwa pemerintah masih harus bergantung pada pembiayaan utang untuk menopang belanja.
Sementara itu dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia masih sangat sensitif terhadap dinamika harga komoditas global. Ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya alam membuat ketahanan rupiah terhadap gejolak global menjadi relatif rapuh. Ketika harga batu bara, CPO, atau nikel mengalami koreksi, maka surplus perdagangan dapat dengan cepat tergerus, mengurangi pasokan valas di pasar domestik.
Selain itu neraca pembayaran Indonesia juga mencatat ketergantungan terhadap arus modal portofolio sehingga membuat rupiah semakin volatil. Seperti sekarang yang menguat saat dolar AS melemah, dan kembali terpuruk saat dolar AS menguat.
Pelemahan indeks dolar AS yang terjadi sore ini pasca pidato Trump merupakan respons jangka pendek terhadap ketidakpastian politik domestik AS daripada refleksi dari perubahan arah kebijakan makroekonomi negara itu. Sehingga penguatan rupiah yang terjadi bersama mata uang Asia lainnya hanya bersifat temporer, ketimbang tren apresiasi jangka panjang.
Selama defisit transaksi berjalan tetap berada dalam batas rentan dan kebutuhan pembiayaan eksternal pemerintah masih tinggi, rupiah akan tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global.
(dsp/aji)




























