Selain itu, pasar juga tengah mencermati absennya komitmen jelas terhadap stabilitas jangka panjang di AS, termasuk pengendalian utang dan hubungan yang harmonis dengan otoritas moneter, setelah beberapa waktu lalu adanya upaya kriminalisasi terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
Walau dalam pidato kali ini Trump lebih fokus pada isu domestik, namun rekam jejaknya yang kerap mengkritik independensi bank sentral tetap menjadi latar belakang penting dalam persepsi investor.
Dari pasar domestik, sebenarnya data-data ekonomi tak sepenuhnya mendukung penguatan rupiah. Realisasi fiskal awal tahun yang masih mencatat tekanan pada keseimbangan primer, kebutuhan pembiayaan yang besar, serta dinamika lelang surat utang yang permintaannya menyusut dan mulai menunjukkan kenaikan imbal hasil menjadi pengingat bahwa fundamental dalam negeri belum sepenuhnya solid.
Permintaan investor terhadap SBN masih fluktuatif, sementara ruang fiskal relatif terbatas untuk merespons gejolak global. Artinya, penguatan rupiah kali ini lebih banyak ditopang sentimen eksternal ketimbang dorongan fundamental domestik yang kuat.
(dsp/aji)



























