Agaknya alarm risk-on mulai kembali menyala meski mungkin sedikit terbatas dan membuat aset berisiko di pasar emerging market kembali diburu investor global. Hal ini terlihat dari pasar surat utang yang hari ini mengalami penurunan imbal hasil di hampir semua tenor akibat aksi beli yang diakumulasi pelaku pasar setelah pekan lalu membukukan aksi jual.
Imbal hasil SUN mulai menyusut. Imbal hasil tenor 1Y turun 1,7 basis poin (bps) ke 5,01%, tenot 5Y turun 1,1 bps ke 5,77% dan 10Y turun 1,2 bps ke 5,77%. Meski begitu, secara week-to-date pasar SUN telah ditinggalkan investor dengan adanya outflow US$159,2 miliar.
Investor asing nampaknya kembali berburu aset di pasar domestik juga didukung oleh data bahwa risiko penurunan peringkat pasar Indonesia oleh MSCI tampaknya relatif kecil.
Melansir laporan dari Bloomberg Intelligence yang melakukan uji mekanis menunjukkan bahwa kompresi saham beredar saja tidak akan melanggar kriteria pasar negara berkembang MSCI dan Indonesia masih mendapat skor baik dalam hal aksesibilitas pasar, yang menunjukkan bahwa ambang batas struktural tetap utuh.
Reformasi yang sedang berlangsung saat ini mengatasi masalah transparansi, tetapi implementasi yang kredibel sebelum tinjauan MSCI pada bulan Mei akan sangat penting. Indonesia saat ini berusaha untuk memenuhi kriteria saham mengambang bebas dan transparansi, tetapi belum secara eksplisit tercatat gagal dalam kedua kerangka kerja tersebut.
Analis Bloomberg Sufianti menyebut dalam laporannya, kriteria ukuran dan likuiditas, atau penurunan signifikan dalam aksesibilitas pasar, yang berujung pada konsultasi formal dan kemudian implementasi jika tidak ada perbaikan. Penurunan peringkat Pakistan pada tahun 2021 terjadi setelah bertahun-tahun mengalami penurunan cakupan. Kasus Peru pada tahun 2015 menunjukkan bahwa konsultasi tidak menjamin penurunan peringkat.
"Uji stres kami menghitung ulang kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float menggunakan nilai terendah dari Faktor Inklusi Asing saat ini untuk setiap saham dan skenario hipotetis di mana faktor tersebut ditetapkan pada 10% dan 5%. Berdasarkan kerangka kerja Juni 2025, status EM membutuhkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float minimum sebesar $1.482 juta, setidaknya satu nama yang memenuhi syarat, dan Rasio Nilai Perdagangan Tahunan 15%," katanya.
Ia menyebut arah perkembangannya akan bergantung pada apakah reformasi yang diusulkan diimplementasikan secara kredibel. Pasar yang mengalami penurunan peringkat biasanya memiliki bobot yang sangat kecil dalam indeks pasar negara berkembang (di bawah 0,2%); Indonesia saat ini berada di sekitar 1%.
Dengan sentimen yang ada, agaknya penguatan rupiah mendapat dukungan dari berbagai arah sore ini. Dari pasar domestik data fiskal sedikit mendukung meski terbatas, sementara dari sisi eksternal pelemahan rupiah membawa rupiah berpesta bersama mata uang Asia lainnya dan menjadi tujuan parkir uang investasi pelaku pasar global.
(dsp/aji)





























