Pertama, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi baru. Indonesia mengungkapkan ketertarikannya untuk mengadopsi pendekatan India dalam demokratisasi AI atau penyebaran aplikasi dan kemampuan kecerdasan buatan yang lebih adil, memastikan aksesibilitas AI tak dimonopoli oleh segelintir pihak, melainkan bisa dijangkau oleh perusahaan rintisan atau startup dan masyarakat luas.
Kolaborasi kedua negara tersebut diklaim bakal difokuskan pada pengembangan kecerdasan buatan berdaulat (sovereign AI) yang relevan secara budaya dan aman, melindungi kepentingan data nasional, serta sejalan dengan regulasi domestik.
Area kerja sama kedua yang dibahas adalah infrastruktur publik digital (digital public infrastructure/DPI). Indonesia saat ini tengah menjajaki adaptasi model Aadhaar India—proyek identifikasi biometris yang diwajibkan Pemerintah India—untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan publik lewat identitas digital.
Kerja sama juga akan mencakup inisiatif pemerintahan berbasis teknologi (government technology/GovTech) untuk menghasilkan koordinasi yang mulus antarlembaga pemerintah melalui platform digital.
Pertukaran keahlian bakal dilakukan pada platform seperti e-Sanjeevani (telemedicine/layanan medis daring yang memungkinkan dokter atau tenaga medis memberikan pelayanan kesehatan dari jarak jauh) dan Bhaskaracharya National Institute for Space Applications and Geo-informatics atau BISAG-N (pemetaan geospasial untuk perencanaan logistik dan infrastruktur) milik India yang diklaim sudah terbukti berhasil.
Ketiga, yakni desain chip dan rantai pasok semikonduktor. Potensi kekayaan mineral Indonesia sebagai bahan baku kritis dinilai dapat melengkapi misi semikonduktor ambisius India dalam kolaborasi hulu. India menawarkan dukungan untuk desain chip lewat fasilitas dukungan desain cip terbesar di dunia yang saat ini membantu lebih dari 300 institusi akademik dan 100 startup, di mana membuka peluang berbagi infrastruktur bagi RI.
Selanjutnya, area kerja sama keempat yang dibahas yaitu keamanan siber dan tanggap darurat. Pembentukan saluran berbagi informasi antara CERT-In India dan lembaga terkait di Indonesia diklaim bakal menjadi prioritas untuk mendeteksi dan memitigasi ancaman siber lintas batas melalui koordinasi tim tanggap darurat komputer (computer emergency response team/CERT).
Tak hanya itu, adaptasi sistem dukungan tanggap darurat (emergency response support system/ERSS) India, yang mengintegrasikan layanan medis, kepolisian, dan bantuan jalan raya ke dalam satu platform teknologi terpadu, pun akan dieksplorasi untuk meningkatkan layanan darurat di Tanah Air.
Terakhir atau kelima, adalah peningkatan kapasitas dan pertukaran talenta. Pemanfaatan National Institute of Electronics & Information Technology (NIELIT) India bakal menjadi kunci dalam program peningkatan keterampilan, termasuk pelatihan, dan literasi digital. Selain itu, program startup tours dan pertukaran inovator akan digagas untuk memungkinkan startup Indonesia dan India menjelajahi pasar masing-masing dan berkolaborasi dalam pengembangan teknologi demi kepentingan umum (public good). Kemitraan ini diharapkan bisa mempercepat transformasi digital di kedua negara tersebut, menciptakan peluang baru, dan memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
(far/wep)
































