Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Offshore Datar Jelang Keputusan BI dan Sepinya Transaksi

Redaksi
17 February 2026 07:45

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) belum bergerak dan masih di posisi penutupan kemarin, di saat indeks dolar AS menguat. 

Hari ini (17/2/2026), rupiah di pasar offshore dibanderol Rp16.850/US$ sama dengan penutupan kemarin. Stagnannya rupiah ini terjadi di saat indeks dolar AS justru menguat sebesar 0,17% dan menyentuh level 97-an lagi dari level 96 selama dua beberapa pekan terakhir. 

Stagnannya nilai transaksi rupiah di pasar offshore sejak kemarin terjadi lantaran nilai transaksi menipis. Hari ini, AS memperingati Presidents’ Day dan beberapa pasar di kawasan Asia juga tutup untuk  untuk libur Tahun Baru Imlek, termasuk di pasar spot Indonesia. Praktis, pekan ini menjadi pekan transaksi yang pendek bagi pasar keuangan di Asia.  


Dari kawasan Asia, mata uang di pasar yang sudah dibuka menunjukkan pergerakan yang beragam. Yen Jepang kembali turun 0,04%, dan yuan offshore China susut 0,01%. Sedangkan dari zona hijau hanya dolar Singapura yang menguat terbatas 0,02%. Selebihnya mata uang di kawasan ini stagnan lantaran pasar libur.  

Pergerakan mata uang Asia di pasar yang sudah buka saat beberapa pasar Asia lain tutup libur Imlek, Selasa pagi (17/2/2026). (Bloomberg).

Pelaku pasar berada dalam posisi wait and see serta berekspektasi terkait skenario pemangkasan suku bunga AS, setelah inflasi bergerak lebih lambat. Pelaku pasar menanti data tenaga kerja swasta ADP pada Selasa dan risalah rapat The Fed bulan Januari pada Rabu untuk membaca arah ekonomi AS lebih lanjut, yang dapat memengaruhi pergerakan aset di negara berkembang.