Logo Bloomberg Technoz

Begitu juga dengan pasar domestik, perhatian pelaku pasar pekan ini akan tertuju pada penetapan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Berdasarkan konsensus Bloomberg, BI diperkirakan akan menetapkan suku bunga di posisi yang sama 4,75% demi kepentingan stabilisasi nilai tukar rupiah. 

Jika benar-benar terjadi, keputusan suku bunga BI tersebut akan menjadi jangkar sentimen. Sikap mempertahankan suku bunga di 4,75% akan dibaca sebagai komitmen menjaga stabilitas eksternal dan meredam volatilitas nilai tukar, terutama di tengah isu independensi yang sempat mencuat. 

Pasar akan mencermati bukan hanya keputusan suku bunga, tetapi juga nada pernyataan kebijakan (policy stance), apakah tetap hawkish demi rupiah atau mulai membuka ruang pelonggaran demi pro-growth yang diharapkan pemerintah. 

Dari pasar surat utang, Surat Utang Negara (SUN) tenor 10Y turun 1,2 basis poin (bps) ke level 6,38%, setelah sempat menyentuh 6,45% pada 11 Februari lalu. Sementara, US Treasury tenor 10Y masih stabil di level 4,04%, setelah melonjak di rentang 4,18%-4,27% pada awal Februari lalu.  

Imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10Y, turun ke 6,38%. (Bloomberg)

Selisih imbal hasil (yield spread) antara SUN pemerintah Indonesia dan US Treasury yang kembali melebar tipis ini setidaknya cukup untuk memberi ruang napas bagi aset rupiah lantaran spread masih berada di kisaran yang relatif menarik bagi investor portofolio asing. 

Kondisi ini setidaknya menahan tekanan jual lebih lanjut di pasar valas, meski belum cukup kuat untuk mendorong apresiasi signifikan di pasar NDF yang masih sepi transaksi. Namun, stabilitas ini masih cenderung rapuh. Penguatan indeks dolar AS kembali ke level 97 mencerminkan pasar global yang masih berhati-hati dan cenderung defensif.

Imbal hasil US Treasury stabil di level 4,04%. (Bloomberg)

Jika risalah rapat The Fed mengindikasikan kehati-hatian lebih lanjut atau penundaan pemangkasan suku bunga, maka dolar berpotensi melanjutkan penguatan dan memberi tekanan tambahan bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah. 

Untuk saat ini, stagnannya rupiah di pasar offshore lebih mencerminkan likuiditas yang tipis. Dengan pekan perdagangan yang lebih pendek dan agenda data penting menanti, pelaku pasar agaknya masih memilih menahan posisi. 

(dsp)

No more pages