Kondisi ini membuat arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia, bergerak lebih selektif. Pelaku pasar cenderung menahan posisi menjelang akhir pekan, sembari mencermati arah imbal hasil obligasi AS dan pergerakan indeks dolar yang kembali mendekati level psikologisnya.
Hal ini terlihat pada aksi beli di pasar US Treasury yang terjadi kemarin yang ditandai dengan penurunan yield 10Y sebesar 7,9 bps menjadi 4,1%, di tengah kembalinya kekuatan indeks dolar AS menuju level 97. Kemarin, indeks dolar AS menguat 0,09% ke 96,92.
Di sisi domestik, katalis penguatan rupiah juga terbilang terbatas. Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid di atas 5% menunjukkan fondasi yang relatif kuat. Konsumsi domestik juga masih terjaga dan sektor komoditas memberikan bantalan eksternal yang penting.
Namun, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih menyusul tekanan dari isu peringkat dan kekhawatiran atas disiplin fiskal ke depan. Dalam konteks ini, rupiah bergerak lebih sebagai refleksi dinamika global ketimbang cerminan fundamental domestik.
Hari ini, pasar akan mencermati hasil pertemuan Presiden Prabowo dengan para menteri dalam agenda Indonesia Economic Outlook di Wisma Danantara. Acara ini membahas prospek perekonomian Indonesia ke depan.
"Bila outlook tersebut fokus pada pertumbuhan ekonomi saja tanpa stabilitas fiskal dan makro yang mumpuni, maka S&P dan Fitch berpotensi tidak memberi review yang positif," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas dalam catatannya.
Kondisi rupiah yang masih cenderung volatil belakangan ini juga membuat Bank Indonesia diperkirakan tetap menahan suku bunga acuan pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan.
(dsp/aji)





























