Saham BMRI berhasil menguat 1,5% ke level Rp5.075/saham usai sebanyak 43 juta saham ditransaksikan. Adapun nilai transaksi saham BMRI pada perdagangan hari ini mencapai Rp253 miliar.
Yang juga sama potensialnya, saham TLKM mencatatkan kenaikan 1,19% ke posisi Rp3.390/saham. Nilai transaksi jual–beli saham Telkom Indonesia mencapai 30 juta saham dengan nilai Rp104 miliar.
10 saham teratas yang menopang IHSG, berdasarkan data Bloomberg, Selasa.
- Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 5,84 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) menyumbang 4,49 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) menyumbang 4,22 poin
- Bumi Resources (BUMI) menyumbang 3,64 poin
- Merdeka Battery Materials (MBMA) menyumbang 3,29 poin
- Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) menyumbang 2,88 poin
- Merdeka Gold Resources (EMAS) menyumbang 2,71 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 2,63 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 2,37 poin
- Chandra Daya Investasi (CDIA) menyumbang 1,54 poin
Kabar terbaru, FTSE Russel memutuskan untuk menunda kajian indeks mereka di pasar saham Indonesia. Hal ini ditempuh untuk menanti kejelasan seputar reformasi di Bursa Efek Indonesia.
Mengutip Bloomberg News, FTSE menunda kajian pembaruan indeks untuk periode Maret. Ini dilakukan setelah regulator pasar modal mengumumkan komitmen untuk meningkatkan integritas dan transparansi.
Keputusan FTSE Russel didasarkan atas masukan dari External Advisory Committee. Juga mempertimbangkan risiko pembalikan dan ketidakjelasan persentase free float saham di tengah upaya reformasi.
Bersamaan dengan itu, FTSE Russel akan terus memantau perkembangan yang terjadi mengenai langkah reformasi pasar modal Indonesia. FTSE Russel juga akan melakukan pembaruan untuk FTSE Global Equity Index Series (GEIS) edisi Juni secara Kuartalan yang akan diumumkan pada 22 Mei.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar konferensi pers pada 29 Januari 2026 untuk menyampaikan komitmen peningkatan integritas dan transparansi pasar modal Indonesia. Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis rencana reformasi pada 5 Februari 2026.
Seiring penundaan tersebut, FTSE Russell tidak akan menerapkan penambahan maupun penghapusan saham hasil peninjauan indeks, termasuk perubahan segmen kapitalisasi besar dan kecil, penyesuaian jumlah saham beredar, perubahan bobot investability, serta pencatatan saham baru melalui penawaran umum perdana (IPO) dalam indeks FTSE Russell untuk periode tersebut.
FTSE Russell turut menegaskan pemberitahuan ini tidak berkaitan dengan klasifikasi negara saham (Equity Country Classification). Pengumuman klasifikasi negara berikutnya tetap dijadwalkan berlangsung pada 7 April 2026.
(fad)





























