Investor agaknya masih berhitung terkait risiko nilai tukar rupiah yang masih volatil. Dari sisi domestik, masalah utamanya adalah soal ketidakpastian arah stabilisasi. Rupiah memang tidak terjun bebas, tetapi juga belum cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan jangka menengah.
Sebagai catatan, sejak awal tahun hingga sekarang, rupiah masih sudah menyusut sebesar 0,63%. Di saat yang sama, data inflasi tercatat 3,55% yoy yang rilis pada pekan ini membuat ruang kebijakan moneter Bank Indonesia semakin sempit.
Tekanan nilai tukar ini memaksa bank sentral menahan pelonggaran, meski ekonomi domestik sedang membutuhkan stimulus. Akibatnya, kondisi pasar SUN saat ini seperti serba tanggung.
Yield tinggi karena risiko, tetapi juga belum cukup tinggi untuk mengkompensasi ketidakpastian kebijakan domestik dan nilai tukar rupiah.
Tingginya persepsi risiko Indonesia di mata pasar global tercermin dalam Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang tercatat di kisaran 74 basis poin (bps), jauh lebih tinggi dibanding Malaysia yang hanya sekitar 34 bps. Selisih ini mencerminkan persepsi risiko kredit yang hampir dua kali lipat, meskipun kedua negara berada di kawasan yang sama dan sama-sama berstatus investment grade.
Meski begitu, pada lelang kali ini, pemerintah berhasil menyerap sebanyak Rp36 triliun, jumlah yang sama dengan lelang sebelumnya, menandakan pemerintah cukup berhitung dengan kondisi fiskal yang ada.
(riset/aji)





























