Di sisi lain, harga pangan justru menunjukkan perbaikan. Secara bulanan, harga makanan turun seiring membaiknya pasokan cabai dan bawang serta berlanjutnya diskon tarif kendaraan dari pemerintah. Hal ini membantu menahan tekanan inflasi jangka pendek.
Secara komponen, inflasi Januari dipimpin harga yang diatur pemerintah sebesar 9,71% tahunan, diikuti inflasi inti 2,45% dan volatile food 1,14%. Struktur ini menunjukkan tekanan inflasi lebih banyak berasal dari faktor administratif dibanding dorongan permintaan berlebihan.
UOB menilai kenaikan inflasi Januari kemungkinan hanya bersifat sementara. “Kenaikan inflasi Januari kemungkinan bersifat sementara dan bukan tekanan struktural,” tulis UOB.
Ke depan, UOB memperkirakan inflasi sepanjang 2026 tetap stabil dalam kisaran target Bank Indonesia 2,5% plus minus 1%. Dukungan stimulus pemerintah serta kondisi permintaan yang masih hati hati dinilai akan menjaga risiko inflasi tetap terkendali. Rata rata inflasi 2026 diproyeksikan sekitar 2,5%, sedikit lebih tinggi dibanding estimasi 2025 sebesar 2,1%.
Pandangan ini memperkuat narasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif stabil. Deflasi bulanan Januari disebut sebagai bukti efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga pasokan dan harga, sementara tekanan tahunan lebih dipengaruhi faktor teknis.
(red)






























