Logo Bloomberg Technoz

UOB: Inflasi Terkendali, Ekonomi Tetap Stabil

Redaksi
03 February 2026 12:30

(Dok. UOB Indonesia)
(Dok. UOB Indonesia)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Lonjakan inflasi Indonesia pada awal 2026 dinilai bersifat sementara dan tidak mencerminkan tekanan struktural terhadap perekonomian. Laporan UOB menyebut kenaikan inflasi lebih dipicu faktor teknis, terutama efek basis rendah energi dan kenaikan harga emas, sementara permintaan domestik tetap terkendali.

Inflasi Januari tercatat 3,55% secara tahunan, sedikit di atas target Bank Indonesia. Namun secara bulanan justru terjadi deflasi 0,15%. UOB menilai, inflasi tahunan terutama didorong kelompok perumahan, utilitas, bahan bakar rumah tangga, serta perawatan pribadi. Kenaikan harga emas global dan domestik juga ikut memberi tekanan.

“Inflasi Januari meningkat 3,55% secara tahunan, namun secara bulanan terjadi deflasi 0,15%,” tulis UOB dalam Macro Note 3 Februari 2026.


Tekanan terbesar datang dari komponen energi. Inflasi energi melonjak hingga 15% secara tahunan akibat efek basis rendah tarif listrik tahun lalu serta peningkatan konsumsi saat musim liburan. UOB menilai lonjakan ini lebih bersifat teknis dibanding sinyal tekanan permintaan yang kuat.

“Lonjakan inflasi energi didorong efek basis tarif listrik dan peningkatan konsumsi bahan bakar selama periode liburan,” tulis laporan tersebut.