Logo Bloomberg Technoz

Inflasi Tinggi dan Rupiah Tertekan, Saatnya BI Rate Dinaikkan?

Redaksi
03 February 2026 06:59

Inflasi Tahunan Januari Tembus 3,55%, Ini Alasannya. (Diolah dari Berbagai Sumber)
Inflasi Tahunan Januari Tembus 3,55%, Ini Alasannya. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia melonjak pada Januari. Lonjakan inflasi tahunan sebesar 3,55% ini sejalan dengan proyeksi ekonom yang dihimpun Bloomberg sebesar 3,76% yoy. Laju inflasi tahunan ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023. 

Inflasi Januari yang melonjak, meski belum melampaui ekspektasi ini, didorong oleh efek basis rendah dari kebijakan diskon tarif listrik bagi rumah tangga berpendapatan rendah pada tahun lalu. Adapun, berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi terjadi terdorong oleh perumahan, tarif air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 11,93%. 

Sementara, inflasi inti tercatat meningkat menjadi 2,45%, akibat dorongan dari harga emas. Akan tetapi, jika kenaikan harga emas dikecualikan, maka inflasi inti hanya sebesar 1,84% secara tahunan, lebih rendah dari inflasi inti Desember 1,87%. Ini mengindikasikan lemahnya aktivitas ekonomi dan aktivitas belanja masyarakat relatif rendah. Sebab, harga emas cenderung dipengaruhi oleh faktor global dan bukan cerminan konsumsi masyarakat sehari-hari. 


Sebagai ukuran inflasi yang menyaring harga-harga yang mudah naik-turun seperti harga pangan dan emas, inflasi inti yang relatif rendah ini mengindikasikan tidak adanya demand pull inflation atau inflasi yang terjadi akibat lonjakan permintaan barang dan jasa. 

Inflasi domestik yang kembali meroket di atas 3% ini agaknya semakin mempersempit peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan pelonggaran moneter. Jika langkah hawkish seperti menaikkan suku bunga demi mengendalikan inflasi ini belum mungkin dilakukan, maka mungkin BI Rate agaknya akan ditahan.