Logo Bloomberg Technoz

Hal itu, kata Perry, tecermin dari inflasi yang tetap rendah, serta imbal hasil invetasi yang masih menarik. Berdasarkan data BI, rupiah pada 23 Januari 2026 juga berada di level Rp16.815/US$, masih lemah 0,83% dari level akhir Desember 2025.

"Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Perry.

Namun, pada hari ini Selasa (27/1/2026, rupiah ditutup tercatat menguat ke kisaran level Rp16.766/US$ di pasar spot, seiring dengan pelemahan dolar Amerika Serikat.

Bukan tanpa alasan, pasar kini juga tengah mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed. Gubernur Jerome 'Jay' Powell dan sejawat diperkirakan akan menahan suku bunga acuan pada rapat FOMC, seiring stabilnya pasar tenaga kerja AS yang meredakan perpecahan di internal bank sentral setelah berbulan-bulan diwarnai perbedaan pandangan.

Sementara dari dalam negeri, pasar mencermati arah kebijakan bank sentral Indonesia yang saat ini masih menghadapi dilema, antara menjaga stabilitas nilai tukar di satu sisi, sembari tetap mendorong pertumbuhan ekonomi di sisi lain.

Pasar juga akan menguji konsistensi BI dalam menjaga kredibilitas kebijakan. Pengangkatan Deputi Gubernur baru diharapkan tidak mengubah arah kebijakan utama BI, akan tetapi memperkuat koordinasi internal dan komunikasi kebijakan, terutama dalam menyikapi volatilitas pasar keuangan global yang masih tinggi.

"Nilai tukar secara fundamental akan menguat. Apa indikator fundamental? Inflasi yang rendah, yang kedua pertumbuhan ekonomi yang akan membaik, ketiga imbal hasil investasi yang menarik, dan tentu saja adalah bagaimana komitmen Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan mengarahkan Rupiah ke arah yang lebih kuat," tutur Perry.

(lav)

No more pages