Aksi terbaru Korut ini juga bertepatan dengan kunjungan Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan Elbridge Colby ke Seoul awal pekan ini. Dalam kunjungannya, Colby memuji Korsel sebagai sekutu teladan yang siap mengambil peran lebih besar dalam pertahanannya sendiri.
Kunjungan Colby merupakan tindak lanjut dari perilisan Strategi Pertahanan Nasional AS yang mendesak Korsel untuk memegang peran utama dalam menangkal ancaman Korut. Hal ini sejalan dengan pergeseran fokus pemerintahan Trump yang kini memprioritaskan perlindungan daratan AS.
Dokumen tersebut menyatakan, “Korea Selatan mampu memikul tanggung jawab utama untuk menangkal Korea Utara dengan dukungan AS yang krusial namun lebih terbatas.” Ditambahkan pula bahwa pergeseran ini “konsisten dengan kepentingan Amerika dalam memperbarui postur kekuatan AS di Semenanjung Korea.” Meski demikian, detail mengenai bagaimana AS akan mengubah postur kekuatannya masih belum jelas.
Peluncuran rudal ini terjadi di tengah keretakan hubungan antara AS dan Korsel. Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari Seoul hingga 25%, dipicu oleh kegagalan parlemen Korsel dalam mengesahkan perjanjian dagang yang dicapai tahun lalu.
Di sisi lain, Presiden Korsel Lee Jae-myung telah melakukan berbagai langkah untuk mencairkan hubungan dengan Pyongyang sejak menjabat tahun lalu. Namun, Kim Jong Un justru menolak tawaran damai tersebut dan lebih memilih memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) baru yang dirancang untuk menyerang daratan AS.
Korut diperkirakan akan menggelar kongres partai dalam beberapa minggu mendatang. Dalam ajang tersebut, Kim Jong Un kemungkinan besar akan mengungkap arah kebijakan negaranya untuk lima tahun ke depan. Pada kongres sebelumnya di tahun 2021, pemimpin Korut tersebut telah menetapkan produksi kapal selam nuklir sebagai salah satu proyek senjata prioritasnya.
(bbn)






























